Haluannews Ekonomi – Di tengah sorotan tajam atas lonjakan harga sahamnya, emiten kelapa sawit milik Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), akhirnya memberikan penjelasan resmi. Selain PGUN, saham dua perusahaan lain yang terafiliasi dengan pengusaha asal Kalimantan Selatan ini, yakni PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), juga mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Related Post
Manajemen PGUN menegaskan bahwa kenaikan harga saham PGUN merupakan hasil dari mekanisme pasar yang wajar. Sentimen investor, kondisi makroekonomi global, dan fundamental perusahaan menjadi faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga saham.

"Perseroan tidak memiliki keterlibatan langsung dalam pengelolaan JARR maupun TEBE. Sehingga, pergerakan harga saham kedua perusahaan tersebut merupakan refleksi dari penilaian pasar terhadap prospek bisnis masing-masing emiten," demikian pernyataan resmi PGUN dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sebagai informasi, harga saham PGUN telah meroket 334,99% dalam sebulan terakhir, mencapai level Rp18.400 per saham. Secara year-to-date (ytd), saham PGUN bahkan telah melonjak hingga 4.239,62%, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp105,58 triliun.
Dari sisi operasional, PGUN mencatatkan kinerja positif pada kuartal III-2025. Produksi minyak kelapa sawit (CPO) meningkat sebesar 2.783 MT dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, olahan tandan buah segar (TBS) juga naik signifikan sebesar 17.741 MT. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan produktivitas lahan dan efisiensi operasional yang terus dioptimalkan.
Produksi kernel juga ikut terkerek naik sebesar 1.337 MT seiring dengan peningkatan volume TBS. Hal ini menunjukkan adanya pemulihan produksi pasca dampak El Nino serta optimalisasi kebun yang dilakukan Perseroan.
Untuk memperkuat bisnisnya, PGUN telah menyusun rencana strategis jangka menengah yang berfokus pada program replanting, peningkatan produksi TBS, dan optimalisasi produksi CPO. Program replanting ditargetkan mencapai 2.000 hektar hingga akhir 2026 untuk meningkatkan produktivitas kebun.
PGUN juga berencana meningkatkan kapasitas pabrik kelapa sawit dan memperbaiki rendemen produksi. Dengan langkah ini, perseroan menargetkan proyeksi kenaikan produksi CPO hingga 2026.
Manajemen PGUN menambahkan bahwa proyeksi produksi dan alokasi anggaran tahun 2026 masih dalam tahap finalisasi. Informasi detail akan disampaikan sesuai ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku.
PGUN menilai bahwa kinerjanya tetap terjaga di tengah fluktuasi harga CPO global. Hal ini karena sebagian besar produksi dialokasikan untuk memenuhi pasokan dalam negeri sesuai kebijakan pemerintah. Kebijakan mandatori biodiesel dan program hilirisasi kelapa sawit turut memberikan kepastian pasar bagi PGUN.
Pertumbuhan kebutuhan energi terbarukan dan pangan dalam negeri menjadi faktor pendorong tambahan bagi PGUN. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, prospek jangka panjang industri sawit nasional dipandang tetap positif.
Terkait persaingan, PGUN menyebut industri kelapa sawit saat ini memang diwarnai kompetisi ketat baik di pasar domestik maupun global. Namun, Perseroan tidak terdampak langsung karena seluruh hasil produksi CPO dipasarkan kepada JARR selaku entitas afiliasi. Melalui kerja sama ini, PGUN memiliki kepastian penyerapan hasil produksi.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar