Terkuak! Rupiah Melemah Bukan Indikator, Ekonomi RI Siap Tembus 8%?

Terkuak! Rupiah Melemah Bukan Indikator, Ekonomi RI Siap Tembus 8%?

Haluannews Ekonomi – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan perspektif mendalam mengenai fluktuasi nilai tukar rupiah yang kerap menjadi sorotan publik. Dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026), Airlangga menegaskan pentingnya melihat pergerakan rupiah dalam konteks historis dan fundamental ekonomi yang lebih luas, alih-alih hanya terpaku pada angka depresiasi harian.

COLLABMEDIANET

Airlangga memaparkan bahwa depresiasi rupiah bukanlah fenomena baru, melainkan telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi Indonesia yang melewati berbagai krisis. Ia merinci periode 2004-2014, di mana rupiah mengalami depresiasi signifikan sebesar 40% dalam satu dekade. Pelemahan ini, menurutnya, tidak lepas dari lonjakan inflasi hingga 17% pada tahun 2005, dipicu oleh meroketnya harga minyak dunia mencapai US$140 per barel.

Terkuak! Rupiah Melemah Bukan Indikator, Ekonomi RI Siap Tembus 8%?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Saya hanya menyampaikan bahwa rupiah itu di tahun 2004-2014 terdepresiasinya 40% dalam 10 tahun. Dan itu dengan inflasi yang di tahun 2005, 17% karena harga minyak naik ke 140 dolar per barrel," jelas Airlangga, memberikan gambaran tantangan ekonomi di masa lalu.

Namun, kondisi saat ini menunjukkan perbedaan kualitatif yang mencolok. Untuk periode 2014-2024, Airlangga menyebutkan depresiasi rupiah tercatat 30,6%, jauh lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya. Yang lebih krusial, inflasi pada periode ini berhasil dijaga di level 3%. Bahkan, per hari ini, inflasi Indonesia berada di angka 2,4% dengan depresiasi rupiah sekitar 5%.

"Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4% dan depresiasi rupiah 5%," tegas Airlangga, menyoroti keberhasilan pemerintah dalam mengelola stabilitas makroekonomi.

Ia menekankan bahwa konteks menyeluruh harus menjadi pertimbangan utama. Airlangga memastikan bahwa kinerja sektor perbankan dan korporasi di Indonesia tetap solid. "Perbankan kita hari ini solid, kemudian dari segi korporat juga seluruhnya solid. Jadi seperti yang saya selalu sampaikan ekonomi kita masih kuat," imbuhnya.

Kondisi fundamental yang kuat ini, menurut Airlangga, menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, bahkan menargetkan angka 8%. Untuk mencapai target ambisius ini, peran perekonomian daerah menjadi sangat vital.

"Nah 8% ini daerah harus terus mendorong karena pusat itu agregat daerah. Jadi kalau daerahnya di bawah nasional tentu dia akan menjadi bandul ke bawah," papar Airlangga, menggarisbawahi sinergi antara pusat dan daerah.

Beberapa daerah telah menunjukkan performa gemilang, mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional berkat kebijakan hilirisasi (downstreaming) yang digalakkan pemerintah. Airlangga mencontohkan Maluku Utara yang tumbuh hampir 19%, serta Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan NTB yang juga mencatat pertumbuhan tinggi, didorong oleh industri ekstraktif.

Di pasar keuangan, nilai tukar rupiah sempat menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026). Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di zona hijau dengan apresiasi 0,06% ke level Rp17.680/US$, seiring melemahnya dolar AS di pasar global. Penguatan ini membalikkan posisi rupiah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (22/5/2026), yang ditutup melemah 0,28% ke posisi Rp17.690/US$.

Secara keseluruhan, pesan Airlangga jelas: meskipun rupiah mengalami fluktuasi, fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh, didukung oleh stabilitas inflasi, sektor perbankan yang kuat, kinerja korporasi yang solid, dan potensi besar dari pengembangan ekonomi daerah melalui hilirisasi. Ini menjadi landasan optimisme untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa mendatang.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar