Rupiah Terjun Bebas ke Rekor Terendah Baru: Dolar AS Tembus Rp17.730!

Rupiah Terjun Bebas ke Rekor Terendah Baru: Dolar AS Tembus Rp17.730!

Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan awal pekan ini, Senin (25/5/2026), dengan catatan suram, mencetak rekor penutupan terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah signifikan di level Rp17.730 per dolar AS, terkoreksi 0,23% dari posisi pembukaan.

COLLABMEDIANET

Pergerakan rupiah sepanjang hari ini menunjukkan volatilitas yang tinggi. Sempat mengawali perdagangan di zona hijau dengan penguatan tipis 0,06% ke level Rp17.680 per dolar AS, momentum positif tersebut tidak mampu bertahan. Tekanan jual yang kuat membuat rupiah berbalik arah dan terus tergerus hingga mencapai level penutupan terlemahnya.

Rupiah Terjun Bebas ke Rekor Terendah Baru: Dolar AS Tembus Rp17.730!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ironisnya, pelemahan rupiah ini terjadi di tengah kondisi indeks dolar AS (DXY) yang justru terpantau melemah di pasar global. DXY, yang menjadi indikator kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 0,17% ke level 99,070 pada pukul 15.00 WIB. Fenomena ini mengindikasikan bahwa tekanan domestik terhadap rupiah masih sangat besar, bahkan ketika dolar AS secara global sedang terkoreksi.

Pelemahan dolar AS di pasar global sendiri dipicu oleh sentimen positif terkait potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran. Pada akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa nota kesepahaman untuk kesepakatan damai dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan, dengan laporan kemajuan dari kedua negara dan mediator di Pakistan. Meskipun Trump menegaskan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku hingga kesepakatan final tercapai dan ditandatangani, optimisme hati-hati di pasar keuangan telah menekan nilai dolar AS.

Dari sisi domestik, pemerintah terus berupaya menstabilkan dan memperkuat mata uang rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah menegaskan komitmennya untuk mendorong penguatan rupiah, dengan target ambisius menuju level Rp15.000 per dolar AS dari posisi saat ini yang masih di atas Rp17.000. Purbaya bahkan menyatakan akan mengambil langkah-langkah baru pada pekan ini untuk mencapai target tersebut.

Salah satu kebijakan kunci yang akan diimplementasikan adalah aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang akan berlaku efektif mulai 1 Juni 2026. Aturan ini diharapkan dapat menahan lebih banyak devisa hasil ekspor komoditas strategis seperti batu bara dan CPO di dalam negeri, sehingga memperkuat cadangan devisa dan stabilitas rupiah.

Selain itu, pemerintah melalui intervensi di pasar obligasi juga aktif menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan ini bertujuan untuk menstabilkan imbal hasil atau yield obligasi di tengah arus keluar modal asing. Sepanjang pekan lalu, pemerintah tercatat telah melakukan intervensi dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sekitar Rp2,2 triliun, menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga daya tarik investasi di pasar keuangan domestik.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, tekanan terhadap rupiah masih terasa kuat, menuntut kewaspadaan dan strategi adaptif dari pembuat kebijakan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berubah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar