Haluannews Ekonomi – Gelombang akuisisi emiten kecil di Indonesia oleh perusahaan-perusahaan asal China semakin intensif sepanjang tahun ini, memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar. Fenomena ini terjadi seiring dengan lonjakan harga saham emiten-emiten tersebut, yang kemudian diikuti oleh masuknya investor strategis dari Negeri Tirai Bambu.

Related Post
Analis pasar modal Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi China menjadi salah satu faktor pendorong utama ekspansi perusahaan-perusahaan China ke Indonesia, khususnya di sektor komoditas. Akuisisi ini dipandang sebagai upaya untuk memperkuat rantai pasokan komoditas dan hilirisasi di Indonesia. "BLUE, PGJO, dan KOKA ini kan juga emiten komoditas. Jadi ini ekspansi rantai pasokan komoditas," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa likuiditas yang sangat besar di China memungkinkan perusahaan-perusahaan China untuk berinvestasi secara global, termasuk di Indonesia yang memiliki sumber daya melimpah dan regulasi yang relatif lebih longgar. "Mencaplok perusahaan komoditas Indonesia sangat wajar," tegasnya.
Berikut adalah beberapa emiten yang menjadi target akuisisi perusahaan China sepanjang tahun ini:
- PGJO (PT Tourindo Guide Indonesia Tbk): Diakuisisi oleh PT Zhengyu Global Trading (ZGT) melalui PT Batu Investasi Indonesia (BIP), menjadikan BIP sebagai pengendali saham baru. Saham PGJO melonjak 1.291,3% sepanjang tahun berjalan.
- KRYA (PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk): Mengakuisisi 51% saham perusahaan kendaraan listrik (EV) PT Green City Traffic (ECGO) setelah diakuisisi oleh Rich Step International Ltd. (RSIL) dan PT Green Power Group Tbk. (LABA). Saham KRYA naik 251,85% sepanjang tahun berjalan.
- KOKA (PT Koka Indonesia Tbk): Akan diakuisisi oleh Ningbo Lixing Enterprise Management Co., Ltd., yang akan menjadi pemegang saham pengendali baru. Saham KOKA melesat 441,54% sepanjang tahun berjalan.
- BLUE (PT Berkah Prima Perkasa Tbk): Tengah menjajaki akuisisi oleh Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited. Saham BLUE terbang hampir 10 kali lipat dibandingkan harga awal tahun.
Aksi korporasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dominasi asing di pasar modal Indonesia. Namun, di sisi lain, investasi asing juga dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sektor-sektor strategis di Indonesia.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar