Waspada! Gelembung Saham AI Mengancam? Goldman Sachs Ungkap Risikonya!

Waspada! Gelembung Saham AI Mengancam? Goldman Sachs Ungkap Risikonya!

Haluannews Ekonomi – Euforia investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) tengah mencapai puncaknya. Namun, Goldman Sachs, raksasa investasi asal Amerika Serikat, memberikan peringatan keras. Mereka menyarankan investor untuk lebih berhati-hati, karena ekspektasi yang tinggi berpotensi berbenturan dengan realitas di lapangan.

COLLABMEDIANET

Dalam riset terbaru yang dirilis, analis Goldman Sachs menekankan bahwa meskipun AI tetap menjadi sektor menjanjikan jangka panjang, risiko jangka pendeknya semakin meningkat. Salah satu faktor utamanya adalah potensi penurunan belanja modal dari perusahaan teknologi raksasa, yang selama ini menjadi penggerak utama pertumbuhan sektor ini.

Waspada! Gelembung Saham AI Mengancam? Goldman Sachs Ungkap Risikonya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ryan Hammond, strategis Goldman Sachs, mengungkapkan bahwa antusiasme investor terhadap saham AI mungkin telah mencapai titik jenuh. Sektor ini, menurutnya, memasuki fase baru yang menuntut bukti nyata pertumbuhan laba, bukan hanya janji potensi teknologi. Lima perusahaan teknologi besar—Amazon, Microsoft, Alphabet, Meta, dan Oracle—telah menggelontorkan dana fantastis sebesar US$368 miliar untuk belanja modal dan riset AI sepanjang 2025. Namun, fase investasi infrastruktur besar-besaran ini diprediksi akan segera bergeser.

Fase selanjutnya akan lebih fokus pada profitabilitas. Investor tidak lagi cukup puas dengan besarnya investasi, mereka menuntut bukti kontribusi AI terhadap laba jangka pendek. Pergeseran ini, menurut Hammond, berisiko menekan valuasi saham AI yang telah melonjak tinggi karena ekspektasi. Jika perusahaan gagal menunjukkan keuntungan nyata, harga saham berpotensi anjlok.

Gejala ini sudah mulai terlihat di Wall Street. Saham Nvidia, misalnya, anjlok hampir 6% setelah proyeksi keuangannya dinilai kurang meyakinkan. Salesforce dan Figma juga mengalami penurunan serupa. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bisakah kenaikan tajam saham AI berlanjut?

Goldman Sachs juga memperingatkan potensi perlambatan belanja modal perusahaan teknologi besar. Jika para "hyperscaler" memangkas investasi kembali ke level 2022, dampaknya bisa sangat signifikan. Skenario terburuk, menurut perkiraan Goldman Sachs, berpotensi menghapus sekitar 30% dari proyeksi pertumbuhan penjualan S&P 500 senilai US$1 triliun pada 2026, dan menekan valuasi saham hingga 15-20%.

Meskipun demikian, Goldman Sachs menilai valuasi perusahaan teknologi besar saat ini masih di bawah level ekstrem masa lalu. Kelima perusahaan teknologi raksasa AS saat ini diperdagangkan sekitar 28 kali laba, lebih rendah dibandingkan 40 kali saat reli 2021 dan 50 kali saat gelembung dot-com tahun 2000. Perbedaan utamanya, menurut Goldman Sachs, adalah adanya laba riil yang cukup besar berkat investasi infrastruktur AI yang masif. Namun, risiko tetap tinggi jika pertumbuhan belanja mulai melambat.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar