IHSG Meroket Tajam! Bank Raksasa Jadi Kunci, Waspada Sentimen Global

IHSG Meroket Tajam! Bank Raksasa Jadi Kunci, Waspada Sentimen Global

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa impresif pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil dibuka menguat signifikan pada perdagangan Senin (25/5/2026), melanjutkan tren rebound setelah sempat tertekan cukup dalam pada pekan sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh kinerja solid dari saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, memberikan sinyal positif bagi investor.

COLLABMEDIANET

Pada akhir sesi I, IHSG melonjak 57,30 poin atau setara 0,93%, bertengger di posisi 6.219,35. Data perdagangan Haluannews.id mencatat, sebanyak 511 saham berhasil menguat, sementara 204 saham melemah, dan 99 saham lainnya bergerak stagnan. Aktivitas transaksi juga cukup bergairah, dengan nilai mencapai Rp9,27 triliun, melibatkan volume 16,99 miliar saham, dan frekuensi 1,27 juta kali transaksi.

IHSG Meroket Tajam! Bank Raksasa Jadi Kunci, Waspada Sentimen Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kenaikan IHSG ini mayoritas ditopang oleh penguatan di sejumlah sektor. Sektor finansial memimpin daftar penguatan, diikuti oleh sektor konsumer non-primer dan industri. Sebaliknya, beberapa sektor justru mengalami koreksi, di antaranya infrastruktur, energi, dan barang baku. Tiga bank raksasa Tanah Air, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), menjadi motor utama yang menggerakkan indeks.

Penguatan yang terjadi hari ini merupakan kelanjutan dari rebound yang terjadi pada akhir pekan lalu, di mana IHSG berhasil naik 1,1% ke level 6.162,04 setelah serangkaian tekanan. Perdagangan pekan ini diproyeksikan akan berlangsung lebih singkat mengingat adanya libur Hari Raya Idul Adha pada Rabu dan Kamis (27-28 Mei 2026). Oleh karena itu, pelaku pasar dituntut untuk lebih cermat dalam mencermati berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan bursa.

Dari ranah global, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik Iran yang kini memasuki bulan keempat. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mulai menunjukkan kemajuan dalam pembicaraan damai guna mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kedua negara masih berselisih terkait stok uranium Iran dan rencana pungutan biaya kapal di jalur strategis tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengindikasikan adanya "tanda positif" menuju kesepakatan, namun menegaskan penolakan AS terhadap sistem pungutan di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump juga menekankan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka dan bebas untuk pelayaran internasional. Selat ini merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, namun aktivitas pelayaran nyaris terhenti sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Negosiasi juga masih terhambat isu uranium yang diperkaya, di mana AS meminta Iran menyerahkan stok uranium karena kekhawatiran pengembangan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras programnya untuk tujuan damai. Trump juga menghadapi kritik dari tokoh Partai Republik seperti Mike Pompeo dan Ted Cruz yang menilai potensi kesepakatan terlalu menguntungkan Iran.

Sementara itu, dari dalam negeri, kebijakan pemerintah dan data ekonomi akan menjadi penggerak sentimen pasar. Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan besar berupa pembentukan badan ekspor komoditas strategis, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI). Kebijakan ini, yang akan mulai diterapkan sepenuhnya pada 1 Januari 2027 (mundur dari target 1 September 2026), menjadi sorotan pasar karena dikhawatirkan berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Selama masa transisi hingga 31 Desember 2026, perusahaan masih diizinkan menjual langsung, namun seluruh dokumentasi ekspor wajib melalui BUMN ini. Langkah ini bertujuan memperkuat pengawasan ekspor, menekan praktik underinvoicing dan transfer pricing, serta mencegah pelarian devisa ke luar negeri.

Di sisi lain, FTSE Russell telah mengumumkan hasil tinjauan kuartalan (quarterly review) untuk FTSE Global Equity Index Series (GEIS) edisi Juni 2026. Dalam pembaruan tersebut, empat saham asal Indonesia dikeluarkan dari indeks tanpa adanya penambahan emiten baru. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terdepak dari kategori Large Cap, sementara tiga emiten lainnya, yaitu PT Diastika Biotekindo Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA), dikeluarkan dari kategori Micro Cap. Perubahan ini akan efektif berlaku pada Senin, 22 Juni 2026.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar