Dolar Terpinggirkan! Strategi BI Bikin Transaksi LCT Meroket 309%

Haluannews Ekonomi – Bank Indonesia (BI) mencatatkan lonjakan luar biasa dalam implementasi skema Local Currency Transaction (LCT), sebuah inisiatif strategis untuk mendiversifikasi mata uang dan memperdalam pasar keuangan domestik. Data terbaru Haluannews.id menunjukkan, transaksi tanpa dolar AS ini melonjak drastis hingga 309% pada April 2026, menandakan pergeseran fundamental dalam ketergantungan ekonomi nasional terhadap mata uang global.

COLLABMEDIANET
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Secara kumulatif, nilai transaksi bilateral di bawah kerangka LCT mencapai US$22,61 miliar hingga April 2026. Angka ini meroket 309% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Januari-April 2025, yang hanya sebesar US$7,33 miliar. Kenaikan signifikan ini menjadi bukti nyata bahwa ketergantungan struktural pasar domestik terhadap dominasi dolar AS mulai terkikis secara progresif dan berkelanjutan.

Akselerasi implementasi LCT tak lepas dari dinamika geopolitik global dan pergeseran arsitektur keuangan internasional yang kian kompleks. Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI, Ruth Cussoy Intama, menjelaskan kepada Haluannews.id bahwa ketidakpastian moneter global telah mendorong setiap negara untuk memperkuat resiliensi ekonomi internalnya. "Kondisi global saat ini mengajarkan kita pentingnya kolaborasi regional. Negara-negara menyadari bahwa mitra terdekat adalah aset vital dalam menghadapi gejolak ekonomi," ungkap Ruth, menggarisbawahi urgensi diversifikasi eksposur nilai tukar demi meminimalkan guncangan eksternal terhadap stabilitas Rupiah.

Salah satu daya tarik utama LCT adalah efisiensi biaya transaksi yang signifikan bagi pelaku sektor riil yang terlibat dalam perdagangan internasional. Dalam model konvensional, transaksi lintas batas seringkali memerlukan dua kali konversi mata uang—dari mata uang asal ke dolar AS, lalu ke mata uang tujuan—yang menimbulkan biaya tambahan. Skema LCT memangkas rantai ini menjadi satu tahapan pertukaran langsung melalui bank-bank yang ditunjuk (ACCD). "Mengapa harus melalui dolar AS jika negara-negara memiliki volume transaksi langsung yang tinggi? Proses melalui dolar AS pasti melibatkan perantara dan kurang efisien," tegas Ruth, menyoroti keuntungan strategis dari pemotongan jalur konversi ini.

Hingga kuartal pertama 2026, Indonesia telah menjalin kemitraan LCT dengan sejumlah negara, meliputi Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura. Data menunjukkan bahwa Tiongkok menjadi motor penggerak utama pertumbuhan volume transaksi, menyumbang hingga 89% dari total volume. Adopsi Yuan (RMB) dan Rupiah (IDR) yang tinggi ini mengindikasikan integrasi ekonomi yang erat antara pelaku usaha makro Indonesia dengan korporasi Tiongkok.

Ke depan, BI bertekad memperluas cakupan kerja sama LCT ke negara-negara mitra strategis lainnya. Otoritas moneter tengah memfinalisasi implementasi skema operasional LCT secara penuh dengan India (INR), Singapura (SGD), dan Arab Saudi (SAR). Proses ini mencakup penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan integrasi sistem teknis. Khusus untuk Arab Saudi, ekspansi ini diharapkan tidak hanya mengoptimalkan efisiensi biaya komoditas, tetapi juga mempermudah pembiayaan perjalanan ibadah haji dan umrah bagi masyarakat.

Fleksibilitas regulasi menjadi pilar penting dalam mendukung keberhasilan LCT. Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) BI mengakomodasi pengecualian batas atas pembelian valuta asing tanpa dokumen underlying untuk transaksi komersial skala besar, asalkan memenuhi kriteria dalam kerangka Capital Account Framework Agreement (CAFA). Selain itu, BI juga menyediakan Special Non-Resident Account (SNRA) sebagai instrumen pengawasan terhadap potensi aktivitas spekulatif, menjaga stabilitas pasar keuangan.

Tak hanya di level makro, penetrasi LCT kini merambah ekosistem ritel dan pariwisata melalui inisiatif digitalisasi pembayaran antarnegara. Implementasi interkoneksi sistem QRIS lintas negara (cross-border QR) menjadi bukti nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Wisatawan atau pelaku perjalanan dari Indonesia dapat melakukan pembayaran ritel instan di negara mitra seperti Thailand atau Malaysia hanya dengan menggunakan aplikasi perbankan nasional mereka, dengan proses konversi mata uang yang diselesaikan secara otomatis di back-end melalui mekanisme kliring LCT.

Secara komprehensif, lonjakan akumulasi transaksi LCT sebesar 309% hingga April 2026 menegaskan peningkatan signifikan resiliensi ekonomi nasional. Kebijakan diversifikasi mata uang non-dolar AS ini terbukti efektif menciptakan instrumen pengaman yang kokoh bagi stabilitas Rupiah di tengah turbulensi pasar global. Pendalaman pasar valuta asing yang terstruktur, didukung oleh integrasi produk, infrastruktur, serta sinergi antarotoritas, membuktikan bahwa pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah realitas yang dapat diwujudkan secara strategis dan berkelanjutan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar