Haluannews Ekonomi – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah gencar mengembangkan proyek ambisius: mengubah sampah menjadi sumber energi yang menjanjikan. CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan potensi besar dari inisiatif inovatif ini.

Related Post
Menurut Rosan, proyek waste to energy ini bukan hanya sekadar solusi pengelolaan limbah, tetapi juga langkah strategis dalam mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80%. Selain itu, proyek ini mampu menghemat lahan TPA hingga 90% dan menghasilkan energi terbarukan yang berkelanjutan.

Danantara berperan sebagai jembatan penghubung antara berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), PLN, dan sektor swasta. Proyek ini diharapkan dapat menekan anggaran APBD dan menciptakan investasi jangka panjang yang berkelanjutan, dengan dampak positif pada kesehatan, lingkungan, dan sosial.
Rosan menjelaskan, skema waste to energy menghilangkan kebutuhan pemerintah daerah untuk membayar tipping fee (biaya pembuangan sampah) ke TPA. Sampah akan dikelola langsung dan hasilnya disalurkan ke PT PLN (Persero), yang kemudian akan menerima subsidi dari pemerintah pusat.
"Dengan struktur yang baru ini, tidak ada lagi tipping fee yang harus dikontribusikan pemerintah daerah dalam program Waste to Energy," tegas Rosan.
Lebih lanjut, Rosan mengungkapkan bahwa setiap 1.000 ton sampah dapat menghasilkan 15 MW listrik, cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 20.000 rumah tangga. Ia mencontohkan keberhasilan implementasi waste to energy di negara-negara maju seperti Jepang, China, dan Jerman.
"Ini adalah salah satu alternatif yang tidak hanya berfokus pada energi yang dihasilkan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat," pungkasnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar