Saham China Terbang Tinggi, Ekonomi Mandek! Ada Apa?

Saham China Terbang Tinggi, Ekonomi Mandek! Ada Apa?

Haluannews Ekonomi – Kebijakan "9/24" yang diluncurkan otoritas Tiongkok pada September tahun lalu, yang bertujuan untuk memicu reli pasar saham melalui pemangkasan suku bunga dan pelonggaran aturan buyback saham, ternyata belum mampu mendongkrak perekonomian secara signifikan. Meskipun indeks Shanghai Composite melonjak sekitar 40% dalam setahun terakhir, pertumbuhan ekonomi masih lesu.

COLLABMEDIANET

Kenaikan harga saham memang meningkatkan kekayaan investor di atas kertas, tetapi belum berhasil mendorong konsumsi rumah tangga. Data menunjukkan penjualan ritel hanya tumbuh 3,4% secara tahunan pada Agustus, sebelum memperhitungkan inflasi. Kepercayaan konsumen yang rendah pasca-pandemi menjadi salah satu penyebabnya.

 Saham China Terbang Tinggi, Ekonomi Mandek! Ada Apa?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun jumlah rekening saham baru di Shanghai melonjak, investasi korporasi justru melemah. Pencatatan saham baru di bursa daratan Tiongkok melambat setelah regulator memperketat standar pencatatan. Akibatnya, hanya 1% dari total dana yang dihimpun korporasi non-keuangan hingga Agustus berasal dari pasar saham. Investasi aset tetap bahkan tercatat turun lebih dari 6% dalam setahun terakhir.

Sektor keuangan memang sempat terdongkrak oleh aktivitas broker dan margin loan pada tahun 2015. Namun, dampak serupa tidak terjadi tahun ini. Sektor keuangan hanya tumbuh 4% secara nominal karena penurunan komisi broker dan kinerja perbankan yang lemah.

Reli pasar saham saat ini juga memiliki kesamaan dengan gelembung tahun 2015. Pembiayaan margin telah melampaui rekor sebelumnya, dan regulator mulai memperketat aturan untuk mencegah penyalahgunaan pinjaman untuk membeli saham. Pemerintah khawatir reli ini akan berubah menjadi gelembung berbahaya yang justru dapat memperburuk kondisi ekonomi.

Di sisi lain, ekonomi Tiongkok masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Ekspor berisiko melambat, sektor properti masih tertekan, dan pemulihan konsumsi belum terwujud. Bank sentral Tiongkok kini menghadapi dilema: kekhawatiran atas dampak reli pasar saham justru dapat menghambat upaya pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar