Haluannews Ekonomi – Dominasi sistem pembayaran digital di Indonesia semakin mengukuhkan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai primadona. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pengguna QRIS telah mencapai 58 juta konsumen dengan 40 juta merchant. Angka ini jauh melampaui pengguna kartu kredit yang hanya 14 juta.

Related Post
Pertumbuhan pesat QRIS didorong oleh kemudahan penggunaan dan implementasinya yang semakin luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga merambah ke mancanegara. Saat ini, QRIS sudah dapat digunakan di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang, serta dalam tahap uji coba di China. Padahal, QRIS baru dirilis oleh Bank Indonesia pada tahun 2019, jauh lebih muda dibandingkan kartu kredit yang sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1980-an.

Data Mandiri Spending Index (MSI) per November 2025 menunjukkan bahwa QRIS menjadi metode pembayaran paling populer untuk berbagai kebutuhan. Belanja transportasi dan hobi mendominasi dengan porsi 85%, diikuti toko buku (83%), supermarket (81%), dan restoran (76%). Bahkan, untuk belanja di supermarket, restoran, dan toko kebutuhan sehari-hari, QRIS menguasai 62% pangsa pasar.
Meski demikian, kartu kredit masih menjadi pilihan utama untuk transaksi tertentu, seperti travel (87%), kebutuhan rumah tangga (48%), dan pembelian tiket pesawat (49%). Hal ini menunjukkan bahwa preferensi metode pembayaran sangat bergantung pada jenis transaksi dan kebiasaan konsumen.
Popularitas QRIS yang terus meningkat menandakan pergeseran perilaku konsumen Indonesia menuju pembayaran digital yang lebih praktis dan efisien. Akankah kartu kredit benar-benar ditinggalkan? Waktu yang akan menjawab.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar