haluannews.id – Gejolak di pasar keuangan global kembali memanas menyusul keputusan Bank Sentral Amerika Serikat The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya. Langkah ini, ditambah dengan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah Indonesia.

Related Post
Pada 16 September 2025 The Fed secara resmi mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menempatkannya pada rentang 3,75% hingga 4,00%. Keputusan ini sontak menjadi sorotan utama para pelaku pasar finansial di seluruh dunia. Tak hanya itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun juga mencapai puncaknya di angka 5%, rekor tertinggi sejak tahun 2007. Fenomena ini, menurut Ekonom haluannews.id Research Maesaroh, berjalan seiring dengan penguatan indeks dolar AS.

Kombinasi dua faktor krusial tersebut diperkirakan akan memicu gelombang arus modal keluar atau capital outflow dari pasar keuangan negara-negara emerging markets. Konsekuensinya, potensi pelemahan nilai tukar mata uang dan pasar saham di kawasan tersebut, termasuk Indonesia, menjadi semakin besar.
Dampak langsungnya terasa pada pergerakan Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG yang berpotensi tertekan. Selain itu, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara SBN juga tak terhindarkan. Kondisi ini berarti beban bunga utang pemerintah akan membengkak, dan dalam jangka panjang, biaya pinjaman bagi korporasi di Indonesia juga diprediksi akan ikut merangkak naik.
Para investor dan pelaku pasar kini menanti arah pergerakan IHSG dan Rupiah di tengah tekanan kenaikan suku bunga The Fed yang berkelanjutan. Analisis lebih mendalam mengenai situasi ini telah dibahas oleh Ekonom haluannews.id Research Maesaroh dalam program Squawk Box haluannews.id pada Kamis 17 September 2026.








Tinggalkan komentar