haluannews.id – Warga Eropa kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Harga bensin dan solar di kawasan Uni Eropa dilaporkan telah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, sebuah dampak langsung dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang terus memanas. Komisi Eropa mencatat, rata-rata harga bensin per liter di Uni Eropa kini menyentuh €2,063, sementara solar sedikit lebih mahal di angka €2,159 per liter per 14 September lalu. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak pencatatan data dimulai pada tahun 2005.

Related Post
Puncak harga bahan bakar sebelumnya tercatat pada tahun 2022 untuk bensin, dan April tahun ini untuk solar. Namun, lonjakan kali ini jauh melampaui rekor-rekor tersebut. Variasi harga juga sangat mencolok antarnegara anggota. Malta menawarkan harga termurah dengan bensin €1,34 per liter dan solar €1,21 per liter. Sebaliknya, Denmark menjadi negara dengan bensin termahal mencapai €2,56 per liter, sementara Finlandia memegang rekor solar termahal di €2,51 per liter. Data ini bersumber dari Buletin Minyak Mingguan terbaru Komisi Eropa yang dirilis pada 17 September, sudah termasuk pajak.

Dengan kondisi ini, untuk mengisi penuh tangki mobil berkapasitas 50 liter, rata-rata konsumen di Uni Eropa harus mengeluarkan sekitar €103 untuk bensin dan €108 untuk solar. Kenaikan harga eceran bahan bakar ini telah terjadi selama berbulan-bulan sejak konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari, mengganggu jalur pasokan energi vital melalui Selat Hormuz. Situasi ini semakin memperparah tekanan inflasi di zona euro, di mana inflasi energi melonjak tajam menjadi 14,3% pada Agustus, naik signifikan dari 10,3% di bulan Juli, menurut data Bank Sentral Eropa (ECB).
Harga minyak mentah Brent, sebagai patokan internasional, sempat melampaui $126 per barel di puncak konflik dan kini diperdagangkan di atas $104 per barel untuk pengiriman bulan berikutnya. Angka ini jauh di atas harga sebelum perang pecah yang hanya sekitar $72 per barel. Namun, para ahli menyebut bahwa harga minyak mentah internasional bukanlah satu-satunya pemicu kenaikan harga bensin dan solar. Biaya serta margin penyulingan juga mengalami peningkatan signifikan, yang turut menekan harga di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Margin penyulingan, yang merupakan selisih antara biaya minyak mentah dan harga produk olahan seperti bensin dan solar, kini memberikan kontribusi besar. Meskipun margin bensin tampaknya telah mencapai puncaknya, para ahli dari ECB memperkirakan margin solar belum akan mencapai titik tertinggi hingga Oktober mendatang. Mereka menjelaskan, pada minggu ketiga September, margin penyulingan telah menyumbang sekitar €0,41 (19% dari harga jual di SPBU) untuk solar dan €0,17 (8%) untuk bensin di zona euro.
Bank Sentral Eropa, dalam pernyataan kebijakan moneter 10 September lalu, telah memberikan peringatan keras. Mereka menyatakan bahwa gangguan pasokan energi yang berulang dapat menyebabkan harga energi melonjak lebih tinggi dan bertahan lebih lama dari perkiraan saat ini. Para ahli ECB menegaskan, kunci untuk menekan kembali harga adalah berakhirnya konflik di Timur Tengah serta pemulihan penuh aliran energi dan kapasitas penyulingan.










Tinggalkan komentar