haluannews.id – Pasar modal Vietnam baru saja mencetak sejarah penting. Pada Senin 21 September 2026, indeks saham negara tersebut resmi naik kelas menjadi pasar berkembang (emerging market) dalam daftar FTSE Russell. Pencapaian ini merupakan buah manis dari reformasi bertahun-tahun yang digencarkan Vietnam untuk memikat investor asing.

Related Post
Langkah strategis ini diproyeksikan bakal mengalirkan dana segar hingga US$6 miliar, setara dengan sekitar Rp106,8 triliun, ke bursa saham Vietnam. Status baru ini bukan kejutan mendadak, mengingat Vietnam telah masuk daftar pantauan untuk kenaikan kelas sejak tahun 2018, menunjukkan konsistensi dalam perbaikan iklim investasi.

Ekspektasi akan status baru ini sontak membangkitkan gairah investor global terhadap saham-saham di Vietnam. Data dari Bursa Efek Ho Chi Minh mencatat adanya pembelian bersih signifikan oleh investor asing senilai 2,7 triliun dong atau sekitar US$104 juta pada pekan lalu. Meskipun demikian, secara kumulatif, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih sekitar 91 triliun dong. Thomas Nguyen, Chief Global Markets Officer SSI Securities Corporation, broker terbesar kedua di Vietnam, memperkirakan euforia awal ini mungkin mereda dan pasar akan relatif stabil hingga mendekati tahun 2027.
Proses transisi Vietnam menuju indeks pasar berkembang akan dilakukan secara bertahap dalam empat tahapan hingga 2027. Dimulai dengan porsi 10% pada September ini, disusul tambahan 20% pada Maret tahun depan, kemudian masing-masing 35% pada Juni dan September tahun berikutnya. Nguyen menambahkan, perhatian pasar diperkirakan akan kembali memuncak menjelang tahap inklusi berikutnya pada Maret, mengingat alokasi yang lebih besar berpotensi memberikan dampak signifikan bagi pelaku pasar domestik.
Menyikapi kenaikan status ini, perusahaan manajemen aset raksasa Vanguard telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan investasinya di Vietnam hingga sekitar US$2,5 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Meski demikian, sejumlah tantangan klasik masih membayangi, seperti batasan kepemilikan asing (foreign ownership limit) dan ketersediaan saham beredar bebas (free float) yang terbatas di beberapa emiten kunci.
Pencapaian ini sekaligus menyulut kembali harapan pasar akan potensi kenaikan status Vietnam di indeks MSCI. Para investor menilai bahwa rencana penerapan mekanisme kliring lawan transaksi terpusat (Central Counterparty Clearing/CCP) yang ditargetkan beroperasi pada 2027 dapat menjadi kunci utama bagi Vietnam untuk memenuhi kriteria akses pasar MSCI yang lebih ketat.
Nguyen secara tegas menyatakan bahwa implementasi mekanisme CCP tersebut akan menjadi faktor penentu krusial bagi upaya Vietnam meraih kenaikan status di MSCI di masa mendatang. Ia menjelaskan bahwa FTSE lebih menitikberatkan pada akses pasar, sementara MSCI lebih fokus pada skala dan likuiditas, sehingga keberadaan sistem kliring terpusat yang kuat menjadi sangat esensial.










Tinggalkan komentar