haluannews.id – Pasar saham Indonesia memulai pekan ini dengan gejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menunjukkan kekuatan pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026), tak butuh waktu lama untuk berbalik arah ke zona merah. Setelah sempat menguat tipis, laju IHSG langsung tertekan, anjlok 0,38% ke level 6.416, menghapus optimisme awal.

Related Post
Menurut data terkini, pergerakan IHSG pada awal sesi pagi ini menunjukkan volatilitas tinggi, dengan rentang terendah menyentuh 6.409 dan tertinggi di 6.451. Sebanyak 220 saham berhasil mempertahankan kenaikannya, namun 89 saham harus rela melemah, sementara 344 saham lainnya stagnan tanpa perubahan berarti. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 141,62 miliar, dengan 268,37 juta saham berpindah tangan dalam 33.914 kali transaksi.

Pekan ini, dinamika pasar keuangan global dan domestik akan menjadi sorotan utama. Investor memantau sejumlah faktor krusial yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks. Gejolak geopolitik di Timur Tengah, keputusan suku bunga dari beberapa bank sentral dunia, serta rilis data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri siap membayangi sentimen pasar.
Secara lebih spesifik, perhatian tertuju pada eskalasi konflik antara Houthi dan Arab Saudi yang berpotensi memicu ketidakpastian. Dari sisi kebijakan moneter, pasar akan mencermati hasil kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan keputusan China terkait Loan Prime Rate mereka. Di ranah domestik, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia serta perkembangan data uang beredar akan menjadi fokus utama. Sementara itu, Amerika Serikat dijadwalkan merilis data pesanan barang tahan lama pada akhir pekan, yang bisa memberikan petunjuk kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.
Di tengah kondisi tersebut, bursa saham Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada Senin (21/9/2026). Indeks Kospi Korea Selatan dibuka menguat 0,85%, diikuti Kosdaq yang naik 0,43%. Namun, sentimen berbeda terlihat di Australia, di mana indeks acuan S&P/ASX 200 tertekan 0,49%. Pasar saham Jepang sendiri tidak beroperasi karena libur nasional.
Pergerakan pasar global juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat dan tingginya harga komoditas energi. Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir di tengah inflasi yang masih persisten dan imbal hasil obligasi yang tinggi. Harga minyak mentah yang bertahan di kisaran US$100 per barel dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 5% menjadi perhatian serius. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter secara global.
Dalam suasana penuh ketidakpastian ini, pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menjadi agenda yang paling ditunggu pekan ini. Diskusi kedua pemimpin negara adidaya tersebut akan mencakup berbagai isu ekonomi vital, mulai dari tarif perdagangan, mineral kritis, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan berbagai persoalan ekonomi lainnya. Sebagai langkah awal, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah lebih dulu bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, menyiapkan landasan sebelum pertemuan puncak Trump dan Xi.










Tinggalkan komentar