haluannews.id – Awal pekan ini menjadi periode yang berat bagi mata uang Garuda. Rupiah harus kembali mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS), terperosok ke zona merah setelah sempat menunjukkan sedikit perlawanan pada penutupan pekan lalu. Data terbaru menunjukkan rupiah melemah signifikan, menembus angka Rp17.780 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin 21 September 2026, anjlok 0,28 persen dari posisi sebelumnya.

Related Post
Kondisi ini mengikis kembali kenaikan tipis yang sempat dirasakan rupiah pada Jumat 18 September 2026, saat mata uang kita sempat terapresiasi 0,03 persen dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.730 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau stabil di angka 100,217 pada pukul 09.00 WIB.

Gejolak di pasar keuangan global, terutama dari faktor eksternal, disinyalir menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Konflik yang memanas di Timur Tengah dan lonjakan imbal hasil obligasi global menjadi sorotan utama para investor. Minat investor terhadap aset berisiko masih cenderung tertahan, menyusul langkah sejumlah bank sentral dunia yang terus menaikkan suku bunga dan mengisyaratkan kebijakan moneter ketat masih akan berlanjut demi mengendalikan inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun melonjak 5 basis poin mencapai 4,743 persen, level tertinggi sejak Juli 2024. Tak hanya itu, imbal hasil tenor 10 tahun juga bertambah 5 basis poin menjadi 4,996 persen, dan tenor 30 tahun naik 3 basis poin ke 5,327 persen. Kenaikan imbal hasil ini secara otomatis meningkatkan daya pikat aset berdenominasi dolar AS, meski indeks dolar mengakhiri perdagangan Jumat dengan pergerakan yang stabil.
Situasi di Timur Tengah juga kian memanas setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah melancarkan serangan ke beberapa lokasi vital di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu. Ancaman saling lontar antara Iran dan AS pun kembali terjadi. Meskipun harga minyak mentah AS sempat ditutup turun 1,58 persen pada Jumat lalu, perkembangan terbaru di kawasan tersebut berpotensi memicu kembali volatilitas harga energi pada awal pekan ini.
Di tengah ketidakpastian ini, pasar juga menantikan hasil pertemuan antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York. Pertemuan ini diharapkan dapat membuka peluang kesepahaman, paving the way for sejumlah kesepakatan penting menjelang pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada Kamis mendatang.








Tinggalkan komentar