haluannews.id – Jakarta Otoritas Jasa Keuangan OJK mengakui adanya tekanan terhadap likuiditas di sektor perbankan nasional. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa fenomena pertumbuhan kredit yang jauh melampaui kenaikan dana pihak ketiga DPK menjadi pemicu utama menurunnya rasio likuiditas industri perbankan pada Juni 2026.

Related Post
Data terkini menunjukkan penyaluran kredit perbankan mencapai angka fantastis Rp 9.081 triliun per Juni 2026 melonjak 12,67 persen secara tahunan yoy. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 11,51 persen. Ironisnya di periode yang sama pertumbuhan DPK justru melambat hanya 10,21 persen yoy turun dari 13,47 persen yoy di bulan sebelumnya. Kesenjangan ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pengelolaan likuiditas.

Meskipun demikian Dian Ediana Rae menegaskan bahwa penurunan likuiditas ini masih tergolong wajar. Menurutnya kondisi ini merupakan bagian dari upaya bank untuk menggenjot pertumbuhan kredit yang pada gilirannya diharapkan mampu mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. OJK memahami bahwa kondisi likuiditas dapat bervariasi secara signifikan antarbank bergantung pada struktur pendanaan profil bisnis dan strategi pengelolaan aset serta liabilitas masing-masing.
Oleh karena itu OJK menekankan bahwa tantangan likuiditas yang mungkin dihadapi oleh beberapa bank tidak serta merta mencerminkan kondisi keseluruhan industri perbankan. Otoritas terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan likuiditas baik di level individual bank maupun industri secara menyeluruh melalui pendekatan pengawasan berbasis risiko yang ketat.
Hingga Juni 2026 secara umum OJK memastikan likuiditas perbankan masih berada pada level yang sangat memadai. Rasio LCR tercatat 182,75 persen jauh di atas ketentuan minimal 100 persen. Demikian pula rasio AL/NCD mencapai 101,92 persen dan AL/DPK 23,08 persen yang keduanya jauh melampaui ambang batas minimal masing-masing 50 persen dan 10 persen. Angka-angka ini menunjukkan fondasi perbankan Indonesia tetap kokoh dan resilient.










Tinggalkan komentar