Nabi AI Wall Street Tersandung Rp534 T Lenyap

Nabi AI Wall Street Tersandung Rp534 T Lenyap

haluannews.id – Nama Leopold Aschenbrenner, sang "nabi" investasi kecerdasan buatan (AI) yang sempat menghebohkan Wall Street, kini menjadi sorotan tajam. Pendiri hedge fund Situational Awareness ini tiba-tiba menjadi buruan para pemberi pinjaman setelah portofolio jumbo miliknya di ambang kehancuran hanya dalam hitungan hari pada akhir Juli lalu. Kerugian fantastis mencapai triliunan rupiah mengguncang pasar.

COLLABMEDIANET

Kisah dramatis ini bermula dari sebuah panggilan telepon mendadak yang diterima David Mann, CEO Mannsion Group, saat berada di taksi menuju Bandara LaGuardia. Seorang sumber dekat Aschenbrenner menawarkan penjualan sebagian saham Anthropic milik Situational. Kesepakatan itu, menurut si penelepon, harus segera tuntas dalam semalam. "Aschenbrenner sangat membutuhkan dana segar dan terpaksa menjual," ungkap Mann kepada Wall Street Journal.

Nabi AI Wall Street Tersandung Rp534 T Lenyap
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Aschenbrenner, mantan karyawan OpenAI berusia 25 tahun, melejit namanya berkat esai setebal 165 halaman berjudul "Situational Awareness: The Decade Ahead" yang dirilis pada 2024. Esai tersebut meramalkan arah perkembangan AI di masa depan. Berbekal reputasi gemilang itu, dana kelolaannya meroket tajam dari sekitar US$1,5 miliar pada pertengahan tahun lalu menjadi lebih dari US$45 miliar pada awal Juli 2026. Angka ini setara dengan lebih dari Rp801 triliun, dengan kurs sekitar Rp17.800 per dolar AS.

Strategi investasinya sangat agresif: menempatkan posisi beli besar-besaran pada saham-saham "pemenang" AI seperti produsen chip, sambil melakukan short selling pada saham-saham perangkat lunak yang diperkirakan akan tergerus oleh AI. Untuk memperbesar taruhan, Situational menggunakan utang hingga US$3 untuk setiap US$1 modalnya sendiri, ditambah instrumen derivatif kustom yang disebut "flex options". Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup turut mendanai, meskipun Jefferies dan Barclays menolak menjadi mitra karena menilai portofolio tersebut terlalu terkonsentrasi dan penuh leverage.

Namun, masalah besar mulai muncul pada pertengahan Juli. Model AI open-source murah dari China memicu sentimen pasar berbalik arah. Saham-saham andalan Situational seperti Bloom Energy, Sandisk, dan Nebius anjlok, sementara saham yang mereka short seperti Adobe, AppLovin, dan Figma justru melonjak. Ini menciptakan kerugian ganda yang memperparah situasi keuangan Situational Awareness.

Pada 24 Juli, Situational mengirimkan laporan kepada investor yang mengakui kerugian di bulan tersebut, namun mengklaim ini adalah "waktu yang tepat" untuk menambah dana. Klaim tersebut gagal meredam kepanikan. Klien-klien berbondong-bondong menelepon kantor menanyakan kabar. Seminggu kemudian, saham-saham incaran dana ini anjlok 9-24%, dan menjadi rahasia umum di Wall Street bahwa ada dana besar yang sedang "degrossing" atau melakukan penjualan paksa demi menurunkan risiko dan leverage.

Pada Rabu, 29 Juli, tim Aschenbrenner berjuang keras mencari dana tunai. Mereka mendekati Sequoia, Greenoaks, firma keluarga Michael Dell (DFO Management), hingga XN untuk menjual sebagian saham Anthropic senilai US$5 miliar dengan diskon 20% dan tenggat waktu hanya 12 jam. Greenoaks bahkan bekerja lembur semalaman menyiapkan transaksi yang dijadwalkan tuntas pukul 8 pagi keesokan harinya, lengkap dengan restu Anthropic.

Namun, secara diam-diam, Situational juga menjalankan negosiasi lain dengan Citadel dan Millennium Management untuk menjual mayoritas portofolio saham likuidnya. Ken Griffin, bos Citadel, bahkan turun tangan langsung dari London. Ketika Citadel akhirnya memenangkan kesepakatan dengan diskon sekitar 10% dari harga pasar pada dini hari 30 Juli, Aschenbrenner secara sepihak membatalkan rencana penjualan saham Anthropic, membuat sejumlah calon investor geram.

Situational dan Citadel baru rampung menandatangani dokumen sekitar pukul 9:10 pagi, hanya 20 menit sebelum pasar saham AS dibuka. Situational lantas mengumumkan kabar buruk kepada para investornya: dana ini rugi sekitar 67% sepanjang Juli, setara dengan sekitar US$30 miliar atau Rp534 triliun. Meskipun demikian, dana ini masih mencatat keuntungan 80% sepanjang tahun berjalan. Jane Street, salah satu investor Situational, ikut menanggung kerugian sekitar US$15 miliar akibat kekacauan ini.

Di tengah badai finansial tersebut, pada akhir pekan yang sama Aschenbrenner justru melangsungkan pernikahan dengan Avital Balwit, chief of staff CEO Anthropic Dario Amodei, dalam upacara tepi pantai di Carmel, California. Dalam salah satu pidato pernikahan, terselip sindiran setengah bercanda yang berterima kasih kepada Ken Griffin dan Citadel "karena membuat hari itu mungkin terjadi".

Kini, dana kelolaan Situational hanya tersisa sekitar US$15 miliar atau sekitar Rp267 triliun, jauh menyusut dari puncaknya. Aschenbrenner dan timnya tengah menemui satu per satu klien untuk menjelaskan penyebab kerugian sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh atas manajemen risiko mereka ke depan. Perlahan, dana ini mulai membangun ulang portofolio, termasuk menyuntikkan dana US$400 juta ke startup Source Foundry dan membeli saham SharonAI.

Kasus Situational Awareness kembali mengingatkan pasar akan bahaya leverage berlebihan di industri hedge fund, beberapa tahun setelah keruntuhan Archegos Capital yang sempat mengguncang Wall Street. Bedanya kali ini, sang manajer dana tidak sampai gulung tikar, bahkan sempat merayakan pernikahan di tengah gejolak terbesar dalam kariernya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar