haluannews.id – Mulai 1 Januari 2027, seluruh transaksi komoditas strategis Indonesia, termasuk hasil pertambangan dan kelapa sawit, akan diwajibkan melalui satu pintu: Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Langkah revolusioner ini menandai era baru perdagangan komoditas yang akan diawasi ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan tujuan utama menciptakan harga acuan domestik yang kuat.

Related Post
Sarjito, calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) OJK, menegaskan bahwa sistem perdagangan ini akan bersifat tunggal dan mandatori. Ia mencontohkan bursa-bursa global seperti London Metal Exchange dan Chicago Mercantile Exchange yang juga menerapkan model tunggal demi efisiensi yang lebih optimal. Menurutnya, pendekatan ini akan membawa dampak positif bagi pasar komoditas nasional.

Mengenai para pelaku usaha dan pemain pasar yang sudah beroperasi saat ini, Sarjito menyatakan bahwa mereka semua akan dievaluasi dalam proses pembentukan ekosistem bursa baru. Ia menekankan pentingnya transisi yang mulus, tanpa menimbulkan penundaan transaksi atau proses yang berlarut. Bursa ini harus dibangun dengan kredibilitas tinggi, memastikan setiap langkah berjalan sesuai standar internasional.
Potensi peninjauan ulang terhadap kelayakan para pelaku maupun pengelola yang akan terlibat dalam ekosistem bursa juga terbuka lebar. Bahkan, uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test bisa saja kembali diterapkan untuk pihak-pihak tertentu. Langkah ini krusial guna memberantas praktik perdagangan yang tidak sesuai aturan, termasuk keberadaan perantara tidak sah atau broker ilegal yang merugikan. OJK juga akan memiliki otoritas penuh dalam proses pemilihan jajaran pimpinan, termasuk Chief Executive Officer (CEO) bursa, sejalan dengan perannya sebagai regulator dan pengawas.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah mengonfirmasi bahwa bursa mineral dan komoditas strategis ini akan resmi beroperasi pada awal 2027. Bursa tersebut rencananya akan diberi nama Indonesia Commodity Exchange atau Icomex. Komoditas yang akan masuk dalam bursa ini adalah aset alam unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit (CPO), nikel, dan batu bara.
Pemerintah juga membuka peluang untuk penggabungan dengan bursa komoditas yang sudah ada, seperti Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) yang saat ini menjadi bursa CPO. Namun, Prasetyo Hadi belum merinci mekanisme integrasi atau operasional yang akan digunakan. Semua opsi masih dalam pembahasan demi mencapai visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Indonesia Reference Price, agar harga acuan komoditas ekspor Indonesia dapat dibentuk di dalam negeri, tidak lagi bergantung pada bursa asing.










Tinggalkan komentar