haluannews.id – Euforia kecerdasan buatan (AI) yang sempat mengangkat pasar saham Korea Selatan ke puncak kejayaan, kini berubah menjadi malapetaka pahit bagi jutaan investor ritel. Indeks Kospi, yang sebelumnya meroket lebih dari tiga kali lipat, mendadak anjlok sekitar 40% hanya dalam enam minggu antara Juni dan Juli 2026. Triliunan dolar kekayaan pasar lenyap begitu saja, meninggalkan luka mendalam bagi para pemodal.

Related Post
Kejatuhan drastis ini paling parah menghantam investor individu, yang akrab disapa "semut" di Korea. Meskipun kecil secara perorangan, kekuatan kolektif mereka sangat besar, menyumbang 60-70% volume transaksi harian Kospi. Mayoritas dari mereka menaruh harapan besar pada dua raksasa produsen chip memori, Samsung Electronics dan SK Hynix.

Kisah-kisah pilu mulai bermunculan. Seorang guru bahasa Inggris berusia 30 tahun harus merelakan kerugian hingga 19.000 dolar AS dan kini terpaksa memangkas pengeluaran harian, bahkan mengurangi jatah makannya. Nasib serupa dialami seorang teknisi suara berusia 44 tahun yang kehilangan 7.200 dolar AS dalam seminggu, setelah menginvestasikan separuh pesangonnya ke saham semikonduktor. Ada pula seorang akuntan 30 tahun yang nilai investasinya merosot 69% dalam hitungan minggu setelah terjebak produk leveraged ETF.
Peningkatan gejolak pasar ini dipicu oleh peluncuran ETF leveraged saham tunggal pertama di Korea Selatan pada Mei 2026. Produk ini memungkinkan investor melipatgandakan taruhan pada saham Samsung dan SK Hynix dengan memanfaatkan instrumen utang dan derivatif. Jika saham naik 5%, ETF bisa melonjak 10%, namun jika turun 5%, kerugian pun berlipat ganda menjadi 10%.
Ketika keraguan atas permintaan chip AI mulai menyeruak dan persaingan dari Tiongkok semakin sengit, gelembung pasar pun pecah. Banyak investor yang terlanjur ikut arus FOMO (fear of missing out) kini harus menanggung penyesalan mendalam.
Sebelumnya, Kospi sempat mencetak rekor fantastis, menembus 9.000 poin pada Juni 2026, atau tiga kali lipat dari level tahun 2025. Sepanjang tahun 2025, indeks ini bahkan dinobatkan sebagai bursa dengan kinerja terbaik di dunia dengan kenaikan 76%, mengantar Korea Selatan menjadi bursa terbesar kelima global, melampaui Inggris dan Prancis.
Dampak krisis ini juga merembet ke ranah politik. Presiden Lee Jae Myung, yang mengaku sebagai investor "semut" dan pernah menjanjikan Kospi menembus 5.000 poin pada 2030, kini menghadapi tekanan publik. Tingkat persetujuan dirinya merosot ke level terendah sejak menjabat, yakni 43,3%, di tengah tudingan bahwa pelonggaran regulasi pemerintahnya turut memicu bencana pasar ini.
Bahkan, imbasnya terasa hingga Amerika Serikat. Sebuah hedge fund berbasis AI dilaporkan merugi sekitar 67% pada Juli 2026 akibat eksposur besar pada saham SK Hynix, dan terpaksa melikuidasi sebagian besar portofolio sahamnya untuk melunasi utang kepada kreditur. Popularitas saham chip Korea juga sempat memikat investor AS, terutama setelah Interactive Brokers membuka akses perdagangan langsung saham Korea pada Mei 2026. Sebuah ETF baru yang berfokus pada produsen chip memori bahkan tercatat sebagai peluncuran ETF paling sukses dalam sejarah AS dari sisi penggalangan dana investor baru.
Merespons gejolak ini, otoritas Korea Selatan segera mengambil sejumlah langkah darurat. Persetujuan produk leveraged saham tunggal baru dihentikan sementara, setoran modal minimum untuk memperdagangkan ETF jenis ini dinaikkan tiga kali lipat menjadi sekitar 21.000 dolar AS, dan pelatihan wajib bagi investor ritel diperluas.
Sebagai bentuk protes simbolis atas kerugian besar yang mereka alami, sejumlah kelompok investor bahkan mengirimkan karangan bunga duka ke gedung parlemen. Kepala Korea Stockholders’ Alliance, organisasi yang mewakili sekitar 14 juta investor ritel di Korea Selatan, mendesak agar ETF leveraged saham tunggal dihapus sepenuhnya dan pemerintah menyiapkan langkah penyelamatan bagi para korban.
Meski demikian, tidak semua pihak diliputi pesimisme. Kepala Divisi Asia di Federated Hermes menilai fundamental laba perusahaan chip memori Korea masih akan bertahan kuat dalam dua tahun ke depan, sehingga investor berpotensi memulihkan sebagian besar modal mereka dalam jangka panjang.
Indeks volatilitas Kospi 200 sendiri telah menurun dari puncaknya 86,18 pada 30 Juli menjadi 56,76 pekan ini, mengindikasikan gejolak pasar mulai mereda meskipun kepercayaan investor ritel masih rapuh. Bursa yang sempat dijuluki "Rollerkospi" ini kini menjadi pengingat keras tentang risiko euforia AI yang berlebihan.










Tinggalkan komentar