haluannews.id – Mata uang rupiah harus menelan pil pahit pada penutupan perdagangan Senin 24 Agustus 2026. Setelah sempat menunjukkan performa gemilang selama tiga hari berturut-turut, laju penguatan rupiah terhenti dan berbalik melemah di hadapan dolar Amerika Serikat. Ini menjadi akhir dari tren positif yang dinikmati mata uang Garuda.

Related Post
Berdasarkan catatan Refinitiv, rupiah terpantau terdepresiasi 0,11 persen, mengakhiri hari di level Rp17.705 per dolar AS. Padahal, di awal sesi perdagangan pagi, rupiah sempat membuka diri dengan optimisme, menguat 0,03 persen ke posisi Rp17.680 per dolar AS. Namun, momentum tersebut tak bertahan lama, dan rupiah kemudian kehilangan 25 poin dari posisi pembukaan hingga penutupan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru menunjukkan dominasinya. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat menguat 0,17 persen, mencapai level 98,969. Penguatan ini semakin membesar dibandingkan posisi pagi hari yang hanya naik tipis 0,03 persen.
Melemahnya rupiah tak lepas dari bangkitnya dolar AS hari ini. Data aktivitas sektor jasa AS yang mencatat pertumbuhan terkuat dalam hampir dua tahun terakhir menjadi salah satu pendorong utama yang membendung aksi jual terhadap dolar. Selain itu, daya tarik imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tertinggi dalam beberapa dekade juga turut menopang greenback. Kekhawatiran akan beban utang pemerintah, tekanan inflasi, serta lonjakan kebutuhan pembiayaan menjadi faktor di balik tingginya yield obligasi tersebut.
Meski demikian, momentum penguatan dolar tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Pasar keuangan menyoroti rencana Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah jangka panjang. Kebijakan ini memicu spekulasi bahwa upaya menekan yield justru berpotensi membebani dolar itu sendiri.
Para pelaku pasar juga tengah menantikan detail sanksi baru yang akan dijatuhkan AS terhadap Iran. Tak kalah penting, pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole yang dijadwalkan Jumat mendatang akan menjadi fokus utama. Pernyataan Warsh akan dianalisis secara cermat untuk mencari sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga AS di masa depan.
Di ranah domestik, rupiah juga masih dihantui oleh membengkaknya defisit transaksi berjalan Indonesia. Pada kuartal II-2026, defisit ini melonjak drastis menjadi US$12,49 miliar, jauh lebih besar dibandingkan US$3,58 miliar pada kuartal sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menilai pelebaran defisit transaksi berjalan ini akan memperbesar urgensi Indonesia terhadap aliran dana asing guna menutupi kebutuhan pembiayaan eksternal. Kondisi ini secara otomatis membatasi potensi apresiasi rupiah dan membuatnya rentan terhadap gejolak.
Menurut Irman, level Rp18.000 per dolar AS masih mungkin kembali diuji apabila tekanan global meningkat atau jika aliran modal asing tidak cukup untuk menopang kebutuhan pembiayaan eksternal. "Proyeksi dasar kami masih melihat USD/IDR akhir tahun di kisaran Rp17.900-18.150, sehingga Rp18.000 bukan merupakan skenario terburuk, tetapi masih berada dalam rentang fundamental kami," pungkasnya.








Tinggalkan komentar