haluannews.id – Mata uang Garuda kini tengah menikmati momentum penguatan signifikan. Rupiah berhasil menembus level psikologis Rp17.600 per dolar Amerika Serikat, memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar. Apa sebenarnya yang menjadi pendorong di balik geliat positif ini? Seorang ekonom perbankan terkemuka membongkar dua faktor utama yang membuat rupiah perkasa.

Related Post
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didongkrak oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari kancah global, pelemahan dolar AS menjadi kunci. David merinci, sentimen ini muncul akibat peningkatan volume pembelian kembali obligasi pemerintah AS (US Treasury), kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Negeri Paman Sam, serta pergeseran ekspektasi pasar terkait keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada September 2026. Kondisi ini mendorong investor global untuk mengalihkan dananya ke aset non-dolar, termasuk rupiah.

Di sisi domestik, sinyal positif datang dari kepastian calon tunggal Gubernur definitif Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti. Pengumuman ini sukses menahan laju rupiah agar tidak terperosok lebih jauh dari level Rp18.000 per dolar AS. Dampaknya terlihat jelas dari penurunan persepsi risiko investasi (credit default swap/CDS) dan lonjakan arus masuk modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. "Pengumuman calon Gubernur BI definitif memberikan kepastian arah ekonomi Indonesia dan pasar cenderung merespons positif," terang David kepada haluannews.id, Senin (24/8/2026). Selain itu, menyempitnya defisit neraca pembayaran juga turut menyumbang sentimen positif bagi perekonomian nasional.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengusulkan Destry Damayanti sebagai kandidat tunggal Gubernur BI pada 12 Agustus lalu. Pemerintah menyoroti rekam jejak dan pengalaman panjang Destry di sektor keuangan sebagai alasan utama penunjukan ini. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Destry memiliki kompetensi yang sangat kuat untuk memimpin bank sentral. Selain berkarier puluhan tahun di bidang ekonomi dan keuangan, Destry juga telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI selama dua periode.
"Yang pasti rekam jejak beliau. Mulai dari pendidikan sampai mengabdikan diri sekian puluh tahun di bidang keuangan," ungkap Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/8/2026). Menurut Prasetyo, pengalaman Destry yang mendalam di Bank Indonesia menjadi pertimbangan fundamental pemerintah dalam mengajukan namanya ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. "Beliau juga dua kali, dua periode menjadi Deputi Gubernur Senior. Itu salah satu alasan yang paling mendasar, tentunya kompetensi," imbuhnya.
Sebagai langkah selanjutnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test untuk Calon Gubernur BI Destry Damayanti. Agenda penting ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan informasi yang diterima haluannews.id, uji kelayakan Destry akan dilaksanakan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) oleh Komisi XI DPR RI pada pukul 10.00 WIB. Ketua Komisi XI DPR RI, M. Misbakhun, membenarkan jadwal tersebut. "Kita jadwalkan memang itu sesuai hasil rapat internal," ujarnya kepada haluannews.id, Minggu (23/8/2026).










Tinggalkan komentar