Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan yang kurang meyakinkan pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, Senin (6/10/2025), dengan penurunan tipis sebesar 0,06% atau 4,71 poin ke level 8.113,58. Meskipun sempat mencatatkan kenaikan di awal perdagangan, IHSG kemudian berbalik arah.

Related Post
Aktivitas perdagangan hari ini terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,37 triliun, melibatkan 27,50 miliar saham dalam 1,84 juta transaksi. Sektor utilitas dan properti menjadi sektor dengan penguatan tertinggi, sementara sektor finansial dan energi mengalami koreksi paling dalam.

Pergerakan saham-saham milik konglomerat menjadi sorotan utama dalam perdagangan hari ini. Saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu mencatatkan kenaikan signifikan, dengan saham Barito Pacific (BRPT) melonjak 4,16% ke Rp 4.010 per saham, memberikan kontribusi 9,98 poin pada indeks. Saham Multipolar Technology (MLPT) bahkan menyentuh batas auto rejection atas (ARA), naik 10% ke Rp 197.225 per saham, menyumbang 7,92 poin pada indeks.
Selain saham-saham Prajogo Pangestu, emiten konglomerat lain seperti TPIA, CDIA, BREN, saham tambang emas Grup Salim dan Bakrie (BRMS), serta saham properti milik Aguan (PANI) juga turut menjadi penggerak IHSG. Di sisi lain, saham-saham seperti TLKM, DCII, BYAN, BBRI, dan BMRI menjadi pemberat utama kinerja IHSG.
Pekan ini, pasar akan dihadapkan pada sejumlah sentimen penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Rilis data ekonomi dari Bank Indonesia (BI), risalah rapat The Federal Reserve (The Fed), serta kelanjutan penutupan pemerintahan Amerika Serikat akan menjadi faktor penentu arah pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, bursa Asia mayoritas bergerak naik pada awal pekan ini. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak di atas 4% dan mencapai rekor tertinggi, begitu pula dengan indeks Topix. Indeks ASX / S&P 200 Australia juga mencatatkan kenaikan.
Di Amerika Serikat, pada akhir pekan lalu, tiga indeks utama ditutup lebih tinggi, meskipun penutupan pemerintah AS masih berlanjut.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar