Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok tajam pada perdagangan Selasa (26/5/2026), mengakhiri sesi dalam zona merah setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan sehari sebelumnya. Penutupan pasar mencatat pelemahan signifikan 1,23% atau setara 76,16 poin, memposisikan indeks di level 6.130,19. Sepanjang hari, pergerakan IHSG berfluktuasi antara 6.124,79 hingga 6.286,87, mencerminkan volatilitas yang cukup tinggi menjelang libur panjang.

Related Post
Volume transaksi pada sesi perdagangan ini terbilang masif, mencapai Rp 18,1 triliun dengan 24,88 miliar saham berpindah tangan dalam 1,96 juta kali transaksi. Dominasi sentimen negatif terlihat jelas dari data perdagangan, di mana 447 saham ditutup melemah, jauh melampaui 241 saham yang menguat, sementara 133 saham stagnan. Sektor-sektor kunci seperti konsumer primer, properti, dan finansial menjadi kontributor utama pelemahan pasar, menunjukkan tekanan jual yang merata di berbagai lini.

Saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo atau blue chip turut menjadi beban berat bagi IHSG. Sebut saja Astra International (ASII) dengan sumbangan pelemahan 18,95 poin, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 15,68 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) yang terkoreksi 11,71 poin. Pergerakan saham-saham unggulan ini menjadi indikator kuat sentimen pasar yang sedang lesu.
Kinerja pasar keuangan domestik pada hari ini tak lepas dari bayang-bayang sentimen ‘wait and see’ yang kuat. Hal ini dipicu oleh akan datangnya libur panjang Idul Adha, di mana pasar akan ditutup pada hari Rabu dan Kamis, sebelum kembali beroperasi pada hari Jumat. Investor cenderung mengambil sikap kehati-hatian menjelang periode libur ini, menghindari risiko yang tidak terduga.
Di kancah global, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Doha menjadi sorotan utama. Pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik tiga bulan ini dilaporkan menunjukkan kemajuan, termasuk diskusi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu nuklir Iran. Harapan akan deeskalasi ini sempat memicu penurunan harga minyak global, dengan Brent anjlok 7% ke US$96,14 per barel dan WTI melemah lebih dari 6% ke US$90,30 per barel.
Namun, optimisme tersebut masih dibayangi ketidakpastian. Washington dan Teheran belum sepenuhnya yakin kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat. Presiden AS Donald Trump, meski mengakui kemajuan, tetap memperingatkan potensi serangan balik jika negosiasi menemui jalan buntu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan diplomasi tetap menjadi prioritas utama. Ketegangan regional juga masih membayangi. Israel terus meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon, sementara Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di kawasan Teluk Persia. Insiden-insiden semacam ini, di masa lalu, kerap memicu lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
Di tengah sentimen global yang beragam, bursa-bursa Asia menunjukkan pergerakan yang variatif pada perdagangan pagi ini. Optimisme terhadap potensi kemajuan negosiasi AS-Iran menjadi salah satu pendorong. Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, mencetak rekor baru dengan melesat ke level tertinggi sepanjang masa di 8.094,90, diikuti penguatan Kosdaq sebesar 2,12%. Sebaliknya, pasar Jepang cenderung melemah; indeks Nikkei 225 turun 0,18% setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis 65.000, dan indeks Topix terkoreksi 0,36% akibat aksi ambil untung investor. Demikian pula, indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,17%, dan futures indeks Hang Seng Hong Kong bergerak lebih rendah, seperti yang dilaporkan Haluannews.id.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar