haluannews.id – Pasar modal Indonesia menghadapi hari yang kelam pada Jumat 24 Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG anjlok tajam hampir dua persen di tengah gelombang penjualan masif saham-saham berkapitalisasi besar. Sentimen negatif dari kancah global semakin memperkeruh suasana, membuat investor dilanda kekhawatiran mendalam.

Related Post
Hingga penutupan sesi perdagangan pertama, IHSG merosot 117 poin atau setara 1,88 persen, berakhir di level 6.196,43. Data menunjukkan dominasi tekanan jual yang luar biasa. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 587 saham ambruk, sementara hanya 104 saham yang mampu bertahan menguat, dan 105 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 17,71 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 37,84 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,25 juta kali transaksi. Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas jual beli yang didominasi oleh pelepasan saham.

Pelemahan IHSG hari ini tak lepas dari aksi jual besar-besaran pada saham-saham unggulan, terutama di sektor perbankan yang memang sudah menjadi target penjualan investor asing sejak hari sebelumnya. Saham-saham seperti BMRI AMMN BREN BRPT BRMS dan BUMI menjadi kontributor utama yang menyeret indeks ke zona merah.
Di tengah gejolak pasar domestik, investor asing juga tercatat melakukan penjualan bersih atau net foreign sell yang signifikan. Sepanjang sesi pertama, total penjualan bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp 759,46 miliar. Total transaksi asing pada sesi ini tercatat sebesar Rp 6,54 triliun, dengan pembelian asing Rp 2,89 triliun dan penjualan asing Rp 3,65 triliun.
Beberapa saham menjadi sasaran utama pelepasan oleh investor asing. PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI mencatat penjualan asing terbesar senilai Rp 386,06 miliar. Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk BUMI dengan Rp 142,89 miliar, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk CUAN yang dilepas Rp 123,37 miliar. Saham-saham lain yang juga banyak dijual asing antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk TPIA sebesar Rp 113,07 miliar, PT Petrosea Tbk PTRO Rp 55,68 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN Rp 43,90 miliar, serta PT Darma Henwa Tbk DEWA Rp 43,49 miliar. Tekanan jual juga menimpa PT Timah Tbk TINS Rp 30,17 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk ENRG Rp 26,34 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA Rp 25,73 miliar.
Kondisi pasar global yang memburuk turut memperparah tekanan pada IHSG. Kebijakan tarif impor baru yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump sebesar 10-12,5 persen terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, kembali memicu kekhawatiran akan perang dagang global. Bersamaan dengan itu, konflik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak Brent melonjak hingga 100,69 dolar AS per barel, mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kenaikan harga energi ini membangkitkan kembali kekhawatiran inflasi global akan menguat, yang pada gilirannya dapat mendorong bank-bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kombinasi antara tekanan eksternal dan berlanjutnya aksi jual pada saham-saham perbankan membuat para pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Hal ini menjadikan IHSG salah satu indeks yang mengalami tekanan paling dalam pada perdagangan hari ini.










Tinggalkan komentar