IHSG Bangkit Tapi Ada Ancaman Besar

IHSG Bangkit Tapi Ada Ancaman Besar

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG akhirnya berhasil mengakhiri tren pelemahan tiga hari berturut-turut dengan penutupan di zona hijau. Pada akhir perdagangan, indeks acuan ini melonjak 51,93 poin atau 0,92% menuju level 5.695,12. Kenaikan ini membawa angin segar bagi investor setelah periode yang cukup menantang.

COLLABMEDIANET

Meskipun ditutup menguat, pergerakan IHSG sepanjang hari ini diwarnai volatilitas tinggi. Setelah sempat dibuka dengan kenaikan 1%, indeks justru tergelincir hingga menyentuh titik terendah 5.607,45 sebelum bangkit kembali. Sesi kedua perdagangan bahkan sempat mengantar IHSG ke level tertinggi 5.737,74, meski akhirnya memangkas sebagian penguatan menjelang penutupan.

IHSG Bangkit Tapi Ada Ancaman Besar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar. Volume transaksi yang hanya mencapai 17,05 miliar saham dengan nilai Rp 10,25 triliun, jauh di bawah rata-rata harian, mengindikasikan investor masih dalam mode "wait and see". Saham-saham seperti Barito Renewables Energy BREN, Telkom TLKM, Barito Pacific BRPT, dan Merdeka Battery Materials MBMA menjadi penopang utama kenaikan indeks. Sebaliknya, Bank Rakyat Indonesia BBRI menjadi pemberat terbesar, diikuti oleh Bank Mandiri BMRI, Charoen Pokphand CPIN, dan VKTR Teknologi.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan OJK telah menyoroti kondisi pasar saham Indonesia yang dinilai perlu perbaikan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengungkapkan adanya kejanggalan di balik pelemahan bursa yang berkelanjutan belakangan ini. "Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab," ujarnya. Sepanjang tahun berjalan, IHSG tercatat anjlok 34,95%, dan pada bulan sebelumnya turun 7,9% secara bulanan.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi serangkaian tantangan signifikan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari kancah global, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih membayangi. Iran menegaskan tidak akan mengadakan pertemuan dengan utusan AS, memperpanjang ketidakpastian perdamaian jangka panjang. Teheran juga berencana mengenakan tarif pelayaran di Selat Hormuz mulai pertengahan Agustus, menambah potensi gejolak. Meskipun harga minyak melemah, PBB memperingatkan dampak konflik masih bisa memicu kenaikan harga pangan dan energi di negara-negara rentan.

Dari Asia, S&P Global dijadwalkan merilis data PMI Manufaktur Tiongkok. Pada Mei 2026, aktivitas manufaktur Tiongkok moderat ke level 51,8, sedikit turun dari rekor lima tahun di April 52,2, namun masih melampaui proyeksi pasar. Pertumbuhan pesanan baru dan output tetap solid, didukung kuat oleh permintaan domestik.

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik BPS mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit mengejutkan sebesar US$ 1,61 miliar. Ini adalah defisit pertama setelah 72 bulan berturut-turut mencatat surplus sejak Mei 2020. Defisit ini disebabkan oleh nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, dengan impor mencapai US$ 24,81 miliar dan ekspor RI US$ 23,20 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, defisit ini utamanya disumbang oleh komoditas migas yang defisit US$ 3,76 miliar, terutama dari hasil minyak dan minyak mentah. Impor secara keseluruhan melonjak 22,16% dibandingkan Mei 2025. Impor migas sendiri melesat 70,78% secara tahunan menjadi US$ 4,51 miliar, sementara impor nonmigas naik 14,69% menjadi US$ 20,30 miliar. Kombinasi faktor global dan domestik ini akan menjadi penentu arah pasar saham Indonesia ke depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar