haluannews.id – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI (BRIS) memancarkan ambisi besar untuk menempatkan diri sebagai salah satu bank syariah terkemuka di kancah global. Tak hanya itu, di tingkat domestik, bank syariah terbesar di Indonesia ini bertekad kuat untuk segera naik kelas menjadi bank kategori "jumbo" atau Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan, jauh sebelum tahun 2030.

Related Post
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan bahwa visi ini sejalan dengan target jangka panjang BSI untuk menduduki posisi lima besar bank syariah dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia pada tahun 2030. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, BSI juga membidik pencapaian 40 juta nasabah, total aset menembus angka fantastis Rp1.000 triliun, serta tingkat pengembalian ekuitas (ROE) mencapai 25% pada periode yang sama.

Anggoro menjelaskan, status KBMI 4, yang mensyaratkan modal inti minimal Rp70 triliun, merupakan sebuah keharusan bagi BSI. Saat ini, BSI berada di kategori KBMI 3 dengan modal inti sekitar Rp50 hingga Rp51 triliun. "Kami melihat bahwa status KBMI 4 ini adalah sebuah keniscayaan. Kami sudah sejajar dengan bank-bank BUMN lainnya, dan saat ini kami masih di KBMI 3," ungkap Anggoro dalam acara "Ngopi Bareng Media Akselerasi Transformasi Digital BSI" pada Rabu (1/6/2026).
Ia optimis BSI akan berhasil melangkah ke jenjang KBMI 4 sebelum tahun 2030. Saat ini, hanya ada empat bank di Indonesia yang menyandang predikat bank jumbo tersebut. Mengenai strategi untuk mencapai target ini, Anggoro masih enggan merinci secara detail. Pihaknya tengah menjajaki berbagai opsi, baik melalui merger, penambahan modal inti, maupun pertumbuhan organik. "Kami masih mengeksplorasi beberapa skema, karena potensi pertumbuhan secara organik pun masih sangat memungkinkan," tambahnya.
Selain ambisi menjadi bank jumbo, BSI juga dihadapkan pada tantangan untuk memenuhi ketentuan free float saham minimum 15% pada tahun depan. Saat ini, porsi free float saham BRIS di pasar masih berada di kisaran 9,91%.
Anggoro menyatakan bahwa BSI akan berupaya maksimal tahun ini untuk melewati ambang batas 15% tersebut. Ia menekankan pentingnya koordinasi erat dengan para pemegang saham utama seperti BNI, BRI, dan Bank Mandiri, serta dengan pengendali saham, Danantara. Meskipun belum dapat membeberkan skema pelaksanaannya secara rinci, Anggoro memastikan bahwa pembahasan mengenai pemenuhan free float saham BRIS hingga 15% sedang intensif dilakukan.










Tinggalkan komentar