haluannews.id – Pembukaan perdagangan Jumat 24 Juli 2026 di pasar modal Indonesia diwarnai dengan sentimen negatif yang kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok dalam, nyaris menyentuh angka 2 persen, akibat derasnya aksi jual investor pada saham-saham berkapitalisasi besar. Situasi ini diperparah oleh bayang-bayang gejolak ekonomi global yang semakin memanas.

Related Post
Hingga pukul 09.26 WIB, IHSG tercatat anjlok signifikan sebesar 125,92 poin atau setara 1,99 persen, menempatkan indeks pada level 6.189,39. Tekanan jual yang masif terlihat jelas dari dominasi saham-saham yang melemah, mencapai 556 emiten, berbanding jauh dengan hanya 99 saham yang menguat dan 310 lainnya stagnan. Total nilai transaksi sudah menembus Rp4,37 triliun, melibatkan 9,79 miliar saham dalam 608,2 ribu kali transaksi, mengindikasikan kepanikan pasar sejak awal sesi.

Penyebab utama pelemahan IHSG tak lain adalah aksi lepas saham-saham unggulan, terutama dari sektor perbankan. Sektor ini memang telah menjadi sasaran jual investor asing sejak perdagangan Kamis 23 Juli. Kala itu, investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp920,3 miliar di pasar reguler, dengan fokus pada bank-bank raksasa seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Tren negatif ini berlanjut pada hari ini, menyeret kinerja indeks lebih dalam ke zona merah.
Di samping tekanan domestik, sentimen global juga turut memperburuk kondisi pasar. Kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berkisar antara 10 hingga 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia, kembali memicu kekhawatiran perang dagang dan prospek ekonomi global. Bersamaan dengan itu, konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak Brent hingga menyentuh US$100,69 per barel, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kenaikan harga energi ini membangkitkan kembali spekulasi inflasi global akan menguat, yang pada gilirannya dapat mendorong bank-bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kombinasi antara tekanan jual pada saham-saham perbankan di dalam negeri dan sentimen negatif dari arena global membuat para pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko. Akibatnya, IHSG menjadi salah satu indeks yang paling tertekan pada awal perdagangan hari ini, mencerminkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan investor.










Tinggalkan komentar