haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus mengakhiri sesi perdagangan Kamis (11/6/2026) dengan catatan merah pekat, setelah sempat menunjukkan geliat positif di awal. Setelah dua hari berturut-turut berpesta pora dengan kenaikan signifikan, hari ini IHSG terjun bebas 0,28% atau kehilangan 16,34 poin, mendarat di level 5.886,03.

Related Post
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap, sebanyak 419 saham terpaksa melemah, jauh melampaui 265 saham yang berhasil menguat. Sementara itu, 131 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan berarti. Total nilai transaksi hari ini mencapai angka fantastis Rp22,27 triliun, melibatkan 33,65 miliar saham dalam 2,37 juta kali transaksi.

Pergerakan IHSG hari ini bak roller coaster, menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Indeks sempat menyentuh puncak di 6.010 atau melonjak 1,82%, namun juga sempat terperosok ke titik terendah 5.784, anjlok 1,99%.
Di tengah badai koreksi, beberapa sektor masih mampu menunjukkan ketangguhan. Sektor teknologi, finansial, kesehatan, dan properti tercatat menguat. Namun, sektor infrastruktur, barang baku, energi, dan konsumer non-primer justru babak belur dengan koreksi paling dalam. Saham-saham yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini termasuk AMMN, BREN, BRPT, DSSA, dan MDKA.
Pelaku pasar domestik kini tengah mencermati dengan saksama berbagai sentimen global yang terus bergejolak. Dinamika pasar keuangan internasional dan pergerakan arus modal asing menjadi sorotan utama. Kemarin, investor asing bahkan tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp3,13 triliun di seluruh pasar, meskipun IHSG kala itu masih berhasil ditutup menguat tajam.
Kondisi pasar keuangan Indonesia saat ini dihadapkan pada serangkaian tantangan, mulai dari eskalasi konflik global hingga kehati-hatian investor dalam mengamati ketahanan fiskal domestik serta kelanjutan tren makroekonomi dunia. Pesta penguatan IHSG dan rupiah yang sempat terjadi, kini terancam rusak oleh dua kabar buruk yang datang dari Amerika Serikat: serangan militer AS yang kembali memanas dan lonjakan inflasi yang tak terduga.
Konflik antara Iran dan AS kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran pada Rabu lalu, demikian pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM). Melalui platform X, CENTCOM menegaskan bahwa militer AS memulai "serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi." Aksi ini disebut sebagai respons atas "agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut." Media pemerintah Iran pun melaporkan bahwa Teheran telah membalas dengan menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya juga telah melontarkan ancaman keras, menyatakan bahwa AS akan kembali menghantam Iran "dengan sangat keras."
Di sisi lain, Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat pada Rabu malam merilis data inflasi periode Mei 2026 yang mengejutkan. Inflasi tahunan melesat ke level 4,2%, naik signifikan dari 3,8% pada April, dan mencetak rekor tertinggi sejak April 2023. Secara bulanan, inflasi umum juga naik 0,5%. Lonjakan inflasi ini didominasi oleh melesatnya indeks harga energi hingga 3,9% secara bulanan atau 23,5% secara tahunan, akibat tekanan di pasar komoditas. Berbeda dengan inflasi inti yang mengecualikan sektor energi dan pangan, yang tampil lebih moderat dengan kenaikan 0,2% bulanan dan 2,9% tahunan.
Merespons data inflasi yang mengkhawatirkan ini, pelaku pasar kini memproyeksikan Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan 17 Juni mendatang. Potensi kenaikan suku bunga baru diprediksi mundur hingga Desember. Namun, di tengah dinamika pengetatan moneter, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru mengisyaratkan bahwa suku bunga memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah di masa depan. Warsh meyakini, lonjakan produktivitas berkat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan akan memberikan dampak disinflasi yang signifikan bagi perekonomian global secara keseluruhan.










Tinggalkan komentar