Dolar AS Tersungkur! Rupiah Perkasa di Rp16.750, Ini Pemicunya!

Dolar AS Tersungkur! Rupiah Perkasa di Rp16.750, Ini Pemicunya!

Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya di awal perdagangan pekan ini. Rupiah melaju kencang, terapresiasi signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa pagi, 3 Februari 2026. Berdasarkan data terkini dari Refinitiv yang dipantau Haluannews.id, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,21%, memposisikan diri di level Rp16.750 per dolar AS. Performa impresif ini menjadi angin segar setelah pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026), rupiah sempat tergelincir tipis 0,03% dan bertengger di Rp16.785 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi indikator kekuatan greenback secara global, terpantau terkoreksi tipis 0,17% ke level 97,471 pada pukul 09.00 WIB. Meski demikian, penurunan ini belum mampu menggoyahkan tren penguatan dolar yang solid, mengingat pada penutupan perdagangan sebelumnya DXY sempat melonjak tajam 0,66% ke posisi 97,632.

Dolar AS Tersungkur! Rupiah Perkasa di Rp16.750, Ini Pemicunya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dinamika pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya arah pergerakan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Dolar AS sendiri masih menunjukkan daya tahannya di dekat level penguatan, didorong oleh serangkaian data ekonomi AS yang positif.

Laporan manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) misalnya, mengindikasikan aktivitas sektor manufaktur AS kembali ke jalur ekspansi, memberikan sinyal positif bagi ekonomi Paman Sam. Namun, pasar juga tetap mewaspadai risiko ketidakpastian politik di Washington, termasuk potensi penundaan rilis laporan tenaga kerja kunci akibat kebuntuan anggaran yang bisa memicu ‘shutdown’ pemerintah.

Dari arena geopolitik, tensi global cenderung mereda. Kesepakatan dagang antara AS dan India serta sinyal positif kelanjutan pembicaraan nuklir dengan Iran turut memberikan sentimen yang lebih stabil bagi pasar keuangan global.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah implikasi politik dari kebijakan moneter AS. Penunjukan Kevin Warsh oleh Donald Trump sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya telah memicu spekulasi. Sebagian analis menilai Warsh cenderung tidak akan mendorong pemangkasan suku bunga secara agresif dan cepat dibandingkan kandidat lain, sehingga memberikan dorongan penguatan bagi dolar AS.

Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, penguatan dolar AS secara fundamental memiliki implikasi langsung. Ketika greenback diburu sebagai aset yang lebih aman dan DXY menguat, tekanan depresiasi pada mata uang emerging markets biasanya meningkat seiring dengan pergeseran arus modal.

Sejalan dengan dinamika tersebut, Mega Capital Sekuritas dalam riset terbarunya menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. "Indeks dolar terus menguat sehingga, tekanan depresiasi terhadap rupiah berpotensi berlanjut menuju rentang IDR 16.750-16.850 per USD," demikian analisis dari Mega Capital Sekuritas.

Dengan demikian, meskipun rupiah dibuka perkasa pagi ini, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan sentimen eksternal yang dapat sewaktu-waktu mengubah arah pergerakan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar