haluannews.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal pekan ini Senin 21 September 2026. Mata uang Garuda terperosok semakin dalam di tengah gejolak pasar global.

Related Post
Berdasarkan data terkini dari Refinitiv pada pukul 13.08 WIB rupiah tercatat melorot hingga Rp17.830 per dolar AS. Angka ini merefleksikan depresiasi sebesar 0,56 persen dari posisi sebelumnya. Rupiah sebenarnya sudah memulai perdagangan pagi dengan tekanan membuka di level Rp17.780 per dolar AS atau melemah 0,28 persen. Namun tekanan sepanjang siang hari ini membuat rupiah kehilangan 50 poin dari harga pembukaan.

Di sisi lain indeks dolar AS DXY justru menguat tipis 0,09 persen bertengger di posisi 100,334. Penguatan dolar AS ini semakin menekan posisi rupiah di pasar valuta asing.
Pelemahan rupiah kali ini diyakini kuat dipengaruhi oleh serangkaian dinamika eksternal yang kompleks. Salah satu pemicu utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta kenaikan imbal hasil obligasi global yang memicu kekhawatiran investor.
Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi strategis di Riyadh Arab Saudi pada Sabtu lalu. Eskalasi ini diperparah dengan saling lontar ancaman antara Iran dan Amerika Serikat yang menambah ketidakpastian di kawasan tersebut.
Meskipun harga minyak mentah AS sempat ditutup melemah 1,58 persen pada Jumat lalu perkembangan terbaru di Timur Tengah berpotensi besar memicu kembali volatilitas harga energi. Gejolak ini tentu akan memberikan dampak lanjutan pada pasar keuangan global termasuk nilai tukar rupiah. Investor kini mencermati setiap perkembangan dengan kewaspadaan tinggi.








Tinggalkan komentar