Haluannews Ekonomi – Kisah sukses Go Soe Loet, seorang perantau asal Fujian, China, menjadi inspirasi nyata. Tiba di Surabaya pada era 1920-an, ia memulai bisnis kopi rumahan yang kemudian membawanya menjadi salah satu tokoh terkaya di Indonesia.

Related Post
Dengan ketelitian memilih biji kopi berkualitas terbaik, Go Soe Loet mengolahnya sendiri menjadi bubuk kopi yang siap jual. Persaingan ketat di pasar Jawa Timur tak membuatnya gentar. Ia kemudian membedakan produknya dengan kemasan kertas coklat dan merek "HAP Hootjan" (Kapal Api), terinspirasi dari pengalamannya menggunakan kapal uap ke Jawa.

Bisnisnya terus berkembang meski penuh tantangan. Go Soe Loet kemudian mewariskan bisnisnya kepada putranya, Go Tek Whie atau Soedomo Mergonoto. Di bawah kepemimpinan Soedomo, merek HAP Hootjan bertransformasi menjadi Kapal Api pada tahun 1970-an.
Soedomo dikenal sebagai sosok visioner. Ia tak ragu berinvestasi pada mesin pengolah kopi modern dari Jerman meski harganya sangat mahal. Investasi ini terbukti meningkatkan kualitas Kapal Api dan mendongkrak penjualan.
Untuk memperluas jangkauan pasar, Soedomo berani memasang iklan di TVRI yang saat itu sangat prestisius. Langkah ini membuahkan hasil, menjadikan Kapal Api sebagai raja kopi di Indonesia. Perusahaan ini berhasil memperluas distribusinya ke berbagai kota di luar Jawa, bahkan hingga ekspor ke Timur Tengah dan Asia.
Kesuksesan Kapal Api membuka jalan bagi inovasi produk lainnya, seperti kopi susu instan ABC yang langsung digemari masyarakat. Pada tahun 1992, Soedomo merambah bisnis kedai kopi dengan merek Excelso yang menyasar segmen menengah atas. Diversifikasi produk terus dilakukan dengan meluncurkan Good Day, Ceremix, dan Permen Relaxa. Keberhasilan ini mengantarkan Soedomo menjadi salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Surabaya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar