Haluannews Ekonomi – Permintaan batu bara global diprediksi mencapai puncaknya pada 2030, beriringan dengan tren transisi energi hijau di berbagai negara. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, yang menyebut beberapa prediksi menempatkan puncak permintaan tersebut di tahun 2030 atau bahkan 2035, bergantung pada target emisi nol bersih China. China, sebagai konsumen batu bara terbesar bagi Indonesia, memegang peran krusial dalam menentukan prospek pasar batu bara nasional.

Related Post
Hendra memproyeksikan penurunan produksi batu bara nasional mulai 2025, seiring melemahnya permintaan dari China dan India—dua pasar ekspor utama Indonesia yang tengah menggenjot konsumsi energi domestik. Meskipun demikian, IMA tetap optimistis terhadap peran batu bara dalam pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri jangka panjang, terutama mengingat ambisi pemerintah untuk mencapai swasembada energi.

Menanggapi proyeksi tersebut, VP Investor Relations & Chief Economist PT BUMI Resources Tbk (BUMI), Achmad Reza Widjaja, menyatakan bahwa perusahaan tetap fokus pada target produksi batu bara yang telah ditetapkan, yakni 78-80 juta ton pada 2025. Target ini, menurut Reza, tetap terjaga selama kondisi cuaca di area pertambangan BUMI normal.
BUMI juga optimistis ekspor batu bara tidak akan terganggu meski permintaan global melemah. Hal ini berkat strategi mengamankan kontrak ekspor ke berbagai negara. "Sebagian besar ekspor berada dalam kontrak, dan kami terus mengupayakan seperti itu," tegas Reza.
Selain menjaga produksi, BUMI juga tengah berupaya memperpanjang Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk tambang batu baranya yang dioperasikan melalui anak usaha, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Langkah ini menunjukkan komitmen BUMI untuk tetap beroperasi secara berkelanjutan di tengah perubahan lanskap pasar batu bara global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar