Haluannews Ekonomi – Kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS berpotensi membuat bunga utang Indonesia membengkak. Pemerintah memastikan akan menjaga indikator ekonomi nasional di tengah sentimen negatif pasar keuangan global, terutama imbas kebijakan ekonomi Trump yang kontroversial. Kebijakan-kebijakan seperti pengenaan tarif tinggi, pemotongan pajak besar-besaran, dan belanja fiskal yang massif, berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan domestik.

Related Post
Hal ini dikarenakan imbal hasil surat berharga pemerintah AS (US Treasury Note) berpotensi meningkat, yang selanjutnya berdampak pada imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Risiko aliran keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia, ke Amerika Serikat pun meningkat. "Kenaikan yield US Treasury berdampak pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui jalur investasi, perdagangan, dan sektor keuangan," ungkap Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dalam program Power Lunch Haluannews.id.

Pada pekan kedua Januari 2025, investor asing melakukan aksi jual neto SBN Indonesia senilai Rp 2,9 triliun, berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatat beli neto Rp 1,94 triliun. Yield SBN 10 tahun pun naik ke 7,18% dari 6,95%, seiring dengan kenaikan yield UST Note 10 tahun ke 4,689% (dari 3 Januari 2025 yang berada di kisaran 6,95%).
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah akan menjaga kinerja makro ekonomi Indonesia. "Kita jaga inflasi, nilai tukar rupiah, neraca pembayaran, dan fiskal yang hati-hati dan berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga fundamental ekonomi dan menarik investasi," tegasnya. Strategi pembiayaan APBN pun akan tetap fleksibel dan oportunistik untuk memastikan penerbitan SBN tetap terjaga pada biaya bunga yang baik dan risiko yang terkelola.
Meski demikian, dengan pertumbuhan ekonomi stabil sekitar 5%, inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga di kisaran 2,29%, dan utang yang terkontrol, pihak pemerintah optimistis SBN Indonesia masih menarik bagi investor global. "Meskipun yield UST naik signifikan, kenaikan yield SBN relatif moderat. Spread antara SBN rupiah dan UST tetap sempit, dan aliran masuk modal asing masih terjadi. Ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap kinerja ekonomi Indonesia," tutupnya.











Tinggalkan komentar