Haluannews Ekonomi – Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi 5,4% (yoy) di RAPBN 2026, angka yang cukup ambisius jika dibandingkan target 5,2% di tahun 2025. Optimisme ini, menurut Madi Darmadi Lazuardi, Direktur Wholesale Banking PT Bank Mega Tbk (MEGA), akan berdampak positif pada peningkatan aktivitas bisnis, daya beli, dan penurunan angka kemiskinan. Namun, realita di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan optimisme tersebut.

Related Post
Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang mencapai 5,12% belum sepenuhnya berdampak signifikan pada sektor perbankan. Permintaan kredit masih terpusat di sektor-sektor tertentu, sementara sektor ritel masih menghadapi tekanan penjualan. Menurut Madi, kunci percepatan pertumbuhan kredit terletak pada peningkatan investasi. Investasi yang tinggi akan mendorong industri untuk menambah modal kerja (capex), yang pada akhirnya akan meningkatkan permintaan kredit perbankan. Selain itu, belanja pemerintah juga berperan penting sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perbankan.

"Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diimbangi dengan peningkatan investasi," ujar Madi dalam wawancara di program Power Lunch, Haluannews.id (Kamis, 28/08/2025). Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan. Tanpa dorongan investasi yang signifikan, target 5,4% akan sulit tercapai dan sektor perbankan akan tetap menghadapi tantangan. Pertumbuhan kredit yang masih terbatas di beberapa sektor menunjukkan perlunya strategi yang lebih terarah dan terukur untuk merangsang pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar