Strategi BI Perkuat Likuiditas Pasar Uang

Strategi BI Perkuat Likuiditas Pasar Uang

haluannews.id – Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal positif terkait kondisi kesehatan keuangan di pasar uang domestik. Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, bank sentral memastikan bahwa ketersediaan likuiditas di dalam negeri tetap terjaga dengan baik. Langkah-langkah strategis yang diambil oleh otoritas moneter mulai membuahkan hasil nyata, yang terlihat dari melandainya suku bunga pasar uang antarbank serta berkurangnya jumlah instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang beredar.

COLLABMEDIANET

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa secara makro, kondisi likuiditas saat ini berada dalam posisi yang sangat terkendali. Salah satu bukti kuat dari stabilitas ini adalah penurunan indeks suku bunga Indonesia Overnight Index Average (IndONIA). Jika pada bulan Juni lalu suku bunga tersebut sempat melonjak hingga menyentuh angka 6,61%, kini IndONIA telah melandai ke level 5,91%.

Strategi BI Perkuat Likuiditas Pasar Uang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Destry, tren positif ini merupakan dampak langsung dari kebijakan ekspansi likuiditas yang secara konsisten dijalankan oleh BI. Salah satu taktik yang digunakan adalah dengan menurunkan imbal hasil (yield) SRBI secara bertahap. Penurunan imbal hasil ini bertujuan untuk mengurangi daya tarik instrumen tersebut agar dana yang sebelumnya tertahan di SRBI dapat mengalir kembali ke sektor keuangan yang lebih produktif.

Data menunjukkan bahwa yield SRBI untuk tenor 12 bulan kini berada di kisaran 6,7%, sebuah penurunan signifikan dari angka sebelumnya yang sempat menyentuh 7,7%. Dampak lanjutannya, jumlah outstanding SRBI juga menyusut dari Rp1.096 triliun menjadi Rp1.013 triliun. Penurunan jumlah instrumen ini secara otomatis memperlebar ruang likuiditas bagi perekonomian nasional.

Tak hanya itu, BI juga memperkuat aliran dana melalui instrumen swap dan repo. Sepanjang tahun berjalan, total tambahan likuiditas yang telah disalurkan melalui kedua mekanisme tersebut telah mencapai angka fantastis, yakni Rp387 triliun.

Untuk menghadapi tantangan arus modal keluar (capital outflow), BI juga telah meluncurkan kebijakan insentif lindung nilai (hedging) melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Kebijakan ini dirancang untuk memberikan rasa aman bagi investor asing dengan menawarkan insentif di kisaran 10% hingga 30%. Hasilnya mulai terlihat dengan masuknya modal asing hingga mencapai US$6 miliar.

Selain menjaga stabilitas, BI juga mendorong perbankan untuk lebih aktif menyalurkan kredit kepada masyarakat. Melalui kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM), BI telah menyalurkan insentif sebesar Rp461 triliun hingga awal September 2026. BI bahkan menerapkan aturan ketat bagi bank yang terlalu banyak menempatkan dana di surat berharga. Bank yang memiliki porsi surat berharga di atas 19% tidak akan mendapatkan insentif tambahan, sementara bank yang aktif menyalurkan kredit dan menjaga porsi surat berharganya di bawah 19% dapat menikmati total insentif hingga 6%.

Melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang komprehensif ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan penyaluran kredit perbankan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar