haluannews.id – Kabar baik dari meja perundingan antara Amerika Serikat dan Iran memicu respons sigap dari pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Jakarta akan terus memantau ketat setiap perkembangan terkait potensi kesepakatan kedua negara adidaya tersebut, mengingat dampaknya yang krusial terhadap dinamika harga minyak global.

Related Post
Menurut Airlangga, ketidakpastian pasar global yang selama ini membayangi baru akan mereda sepenuhnya jika perjanjian damai antara Washington dan Teheran benar-benar diteken. "Tentu kita akan terus memonitor, karena jika kesepakatan tercapai, harga minyak berpotensi kembali turun ke kisaran US$83 per barel. Namun, semua ini baru sah ketika sudah ada tanda tangan resmi," ujarnya. Ia menambahkan, sikap konservatif akan tetap dipegang pemerintah hingga pengumuman resmi ditegaskan.

Spekulasi mengenai pertemuan tingkat tinggi antara AS dan Iran di Swiss pekan ini telah santer terdengar. Pertemuan tersebut disebut-sebut sebagai bagian dari upaya diplomatik intensif untuk mengakhiri konflik berkepanjangan, membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, serta mencari solusi atas program nuklir Teheran yang menjadi sorotan dunia.
Mengutip laporan media Prancis BFMTV, yang merujuk pada sumber-sumber dekat negosiasi, pertemuan krusial ini diperkirakan berlangsung pada Kamis atau Jumat, tepat setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 berakhir. Lokasi pembicaraan diperkirakan berada di wilayah Swiss yang berbahasa Jerman, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua belah pihak.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, sebelumnya mengisyaratkan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan AS memang belum akan ditandatangani dalam waktu dekat. Namun, ia tidak menampik kemungkinan bahwa dokumen tersebut dapat rampung dalam beberapa hari ke depan, seraya menegaskan bahwa jalur diplomatik antara kedua negara masih terbuka lebar.
Meski demikian, hasil konkret dari potensi pertemuan di Swiss ini masih diselimuti ketidakpastian. Belum jelas apakah kedua negara akan mencapai kesepakatan formal yang mengikat, ataukah hanya sekadar melakukan kontak langsung untuk melanjutkan proses negosiasi yang telah berjalan selama beberapa waktu terakhir.
Sentimen positif dari kabar damai ini langsung mengguncang pasar minyak dunia. Harga komoditas energi tersebut anjlok pada awal pekan ini, menyusul spekulasi bahwa kesepakatan antara AS dan Iran akan membuka kembali lalu lintas energi di Selat Hormuz. Hal ini seketika menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak di level tinggi.
Berdasarkan data Refinitiv pada Senin (waktu setempat), harga minyak Brent tercatat di US$83,92 per barel, merosot tajam 3,91% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan yang lebih dalam, yakni 4,58%, bertengger di posisi US$80,99 per barel.










Tinggalkan komentar