Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah memulai pekan ini dengan catatan kurang menggembirakan. Pada pembukaan perdagangan Senin (21/7/2025), mata uang Garuda kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menembus level Rp16.300 per dolar AS. Data dari Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka di posisi Rp16.300/US$, terkoreksi 0,09% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Related Post
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil, hanya melemah tipis 0,01% ke level 98,46 pada pukul 09:00 WIB. Pelemahan rupiah ini melanjutkan tren negatif yang terjadi sepanjang pekan lalu, di mana rupiah tercatat melemah 0,49% terhadap greenback.

Penguatan dolar AS belakangan ini dipicu oleh sejumlah faktor, di antaranya adalah lonjakan inflasi di Amerika Serikat, kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh mantan Presiden Trump, serta ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Data inflasi AS pada Juni 2025 menunjukkan peningkatan menjadi 2,7% secara tahunan, dengan inflasi inti mencapai 2,9%. Kenaikan harga terutama terjadi pada sektor makanan, transportasi, dan kendaraan bekas. Lonjakan harga gas alam juga menjadi perhatian, dengan kenaikan mencapai 14,2%.
Tingginya inflasi ini menimbulkan spekulasi bahwa The Fed akan menunda rencana pemangkasan suku bunga. Akibatnya, imbal hasil dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global, yang kemudian mengalihkan aset mereka ke instrumen berbasis dolar. Hal ini memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Tanpa adanya sentimen positif dari dalam negeri, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya dalam jangka pendek.
Saat ini, pasar tengah menantikan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, pada Selasa (22/7/2025). Pidato ini diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan, terutama di tengah rencana penerapan tarif resiprokal. Selain itu, pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 29-30 Juli juga menjadi fokus perhatian, dengan proyeksi bahwa suku bunga akan dipertahankan pada kisaran 4,25%-4,5%.
Namun, sebagian besar pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali di sisa tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin pada bulan September dan Desember. Jika skenario ini terwujud, tekanan terhadap rupiah diperkirakan dapat mereda menjelang akhir tahun.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar