Haluannews Ekonomi – Jakarta – Haluannews.id bersama Bank Indonesia (BI) sukses menggelar Central Banking Forum 2026 pada Selasa (14/04/2026), dengan sorotan utama pada tema krusial "Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global". Acara ini menjadi platform penting untuk mengupas strategi respons Indonesia dan otoritas moneter dalam menangkis badai tantangan global, sembari memperkokoh fondasi ekonomi nasional dan menjaga optimisme pasar.

Related Post
Dalam forum bergengsi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, secara lugas memaparkan langkah-langkah strategis yang ditempuh Bank Indonesia. Fokus utamanya adalah meredam gejolak geopolitik global yang kian memanas, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, demi menjaga stabilitas fundamental nilai tukar Rupiah.

Destry menegaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah memiliki implikasi multidimensional dan multisektoral yang serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Kedalaman dampak ini, menurutnya, sangat bergantung pada intensitas, skala kerusakan, serta durasi perang. Secara finansial, risiko yang mengintai meliputi lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang berpotensi memicu kenaikan inflasi global.
Tak hanya itu, jalur komoditas juga tak luput dari ancaman. Harga minyak mentah global diproyeksikan melonjak tajam, diikuti oleh kenaikan harga emas sebagai aset safe haven. Di sisi perdagangan dan produksi, gangguan pada rantai pasok global menjadi keniscayaan, yang berujung pada disrupsi pasokan dan kenaikan biaya produksi.
Dampak langsung terhadap pasar keuangan domestik pun tak terhindarkan. Konflik ini telah memicu tekanan pelemahan pada nilai tukar Rupiah dan mendorong eksodus modal asing dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, mencari aset yang dianggap lebih aman.
Menyikapi ancaman ini, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Destry memaparkan bahwa BI mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki, aktif intervensi di pasar spot, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga agresif memperluas basis DNDF di pasar offshore, guna memastikan likuiditas pasar tetap prima dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga.
Langkah-langkah proaktif ini menunjukkan komitmen Bank Indonesia dalam membentengi ekonomi nasional dari gejolak eksternal. Diskusi mendalam mengenai strategi ini menjadi inti dari Central Banking Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Haluannews.id.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar