haluannews.id – Kabar gembira menyelimuti pasar keuangan Indonesia di awal pekan ini. Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan taringnya, berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda kini bertengger di level Rp17.905 per dolar AS, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung beberapa hari terakhir.

Related Post
Kenaikan ini bukan kali pertama, rupiah telah mencatatkan tren positif selama beberapa hari terakhir, mengakhiri perdagangan sebelumnya dengan capaian mengesankan. Pada Kamis, mata uang kebanggaan Indonesia ini ditutup menguat 0,08% ke level Rp17.910 per dolar AS, melanjutkan lonjakan 0,50% pada Rabu. Ini menandakan ketahanan rupiah di tengah gejolak pasar global.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau bergerak naik tipis 0,03% ke level 99,956 pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan DXY ini menunjukkan adanya upaya dolar AS untuk bangkit di tengah tekanan global, namun tampaknya belum cukup untuk membendung laju penguatan rupiah yang didorong oleh faktor internal dan eksternal.
Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari dinamika dolar AS di kancah global serta antisipasi pengumuman cadangan devisa Indonesia untuk periode Juli 2026.
Dari arena global, dolar AS mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah mendapat sokongan dari kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta permintaan lindung nilai bulanan. Meskipun masih di bawah level psikologis 100, DXY perlahan mendekati angka tersebut.
Penguatan dolar AS juga tercermin dari imbal hasil US Treasury yang mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua pekan terakhir. Pergerakan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dan data pasar tenaga kerja AS yang tetap solid. Klaim tunjangan pengangguran AS tercatat stabil, sementara jumlah rencana pemutusan hubungan kerja berada pada posisi terendah dalam dua tahun. Data-data ini kembali memicu kehati-hatian pasar dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve.
Harga minyak dunia juga bangkit dari posisi terendah dalam tiga pekan setelah muncul laporan serangan kelompok Houthi. Pasar turut mencermati kemungkinan langkah Iran terhadap kapal AS dan Israel yang melintasi Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak ini berpotensi kembali memicu kekhawatiran inflasi di AS, yang pada gilirannya dapat mempertahankan daya tarik dolar.
Selain faktor eksternal, dari dalam negeri, pasar juga menantikan laporan posisi cadangan devisa Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan rilis hari ini. Data ini akan menjadi sorotan utama di tengah volatilitas global dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$145,6 miliar. Posisi ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor dan masih jauh di atas standar kecukupan internasional. Pelaku pasar akan mencermati kemampuan cadangan devisa untuk bertahan di tengah kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi rupiah oleh BI.
Posisi cadangan devisa yang tetap kuat dapat menjaga kepercayaan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah. Sebaliknya, penurunan yang tajam dapat mengindikasikan peningkatan kebutuhan penggunaan devisa, termasuk untuk stabilisasi nilai tukar.










Tinggalkan komentar