IHSG Lesu Saham Ini Justru Melejit Investor Wajib Tahu

IHSG Lesu Saham Ini Justru Melejit Investor Wajib Tahu

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu mempertahankan posisinya di zona hijau, menutup perdagangan Kamis (6/8) dengan koreksi tipis 0,12% ke level 6.343,71. Namun, di balik pelemahan indeks acuan ini, sejumlah saham justru tampil perkasa dan menarik perhatian investor.

COLLABMEDIANET

Saham DSSA melonjak signifikan 12,14%, diikuti BREN yang menguat 3,30%, dan ASII naik 1,49%. Ketiga emiten ini menjadi penopang utama yang menahan IHSG dari penurunan lebih dalam. Sebaliknya, saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA turun 1,55%, TLKM melemah 2,21%, dan MORA terkoreksi 4,55%, memberikan tekanan berat pada pergerakan indeks.

IHSG Lesu Saham Ini Justru Melejit Investor Wajib Tahu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Investor asing terpantau ramai-ramai melepas saham, membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp217,24 miliar di pasar reguler dan total Rp273,47 miliar di seluruh pasar. Dari sebelas sektor yang ada, tujuh di antaranya berakhir di zona merah. Sektor properti menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 0,70%, sementara sektor energi berhasil mencatat kenaikan paling signifikan sebesar 1,43%.

Kondisi pasar global juga menunjukkan sentimen serupa. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah, dengan indeks Dow Jones turun 0,85%, S&P 500 terkoreksi 0,18%, dan Nasdaq bergerak relatif stabil dengan penurunan tipis 0,06%.

Pasar juga diwarnai oleh spekulasi mengenai potensi peningkatan kuota produksi bijih nikel Indonesia pada paruh kedua tahun 2026. Kabar ini menimbulkan kekhawatiran serius akan lonjakan pasokan global, yang pada gilirannya memberikan tekanan berat pada prospek saham-saham produsen nikel. Indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing melemah 0,71% dan 0,53%, mencerminkan kekhawatiran tersebut.

Di tengah dinamika pasar, beberapa emiten justru mencatatkan aksi korporasi menarik. Ancora Indonesia Resources (OKAS), melalui anak usahanya Kemitraan MNK BME (KMB), berhasil mengamankan dua kontrak penyediaan solusi bahan peledak pertambangan. Total estimasi nilai kontrak mencapai sekitar US$60 juta dan akan berlaku hingga tahun 2029-2030. Rinciannya meliputi kontrak anyar senilai sekitar US$11 juta untuk proyek tambang di Kutai Timur, Kalimantan Timur, serta perpanjangan kerja sama senilai sekitar US$49 juta dengan salah satu kontraktor tambang batu bara di Kalimantan Selatan. Penambahan kontrak ini menjadi sinyal positif di tengah bayang-bayang kinerja semester I-2026 yang masih menantang. Pendapatan bersih tercatat relatif stagnan di US$76,33 juta atau naik tipis 0,32% secara tahunan, sementara laba bersih periode berjalan merosot tajam 82,00% menjadi US$1,06 juta, dipicu oleh penyusutan margin keuntungan. Nilai kedua kontrak tersebut ekuivalen dengan sekitar 78,61% dari penjualan semester I-2026, meski implementasinya akan berjalan secara bertahap hingga 2030.

Sementara itu, Ciputra Development (CTRA) resmi memulai proyek pembangunan Senja Beach Club. Fasilitas ini merupakan bagian integral dari pengembangan kawasan Ciputra Beach Resort seluas 60 hektare di Kedungu, Tabanan, Bali. Resor berkonsep modern tropis ini akan menyediakan fasilitas restoran, ruang makan dengan pemandangan langsung ke pantai, day bed, sunken pool bar, hingga area lanskap yang cocok untuk berbagai acara privat hingga pesta pernikahan. Proyek ini digarap oleh anak usaha Ciputra Nirvanadwipa, dengan kepemilikan saham sebesar 73,02% dan total aset sekitar Rp1,12 triliun. Pengembangan fasilitas ini menjadi bagian dari upaya CTRA untuk memperkokoh basis pendapatan berulang, setelah perseroan berhasil membukukan pendapatan Rp12,62 triliun dan laba bersih Rp2,66 triliun pada tahun fiskal 2025, menunjukkan pertumbuhan masing-masing 12,77% dan 25,25% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sektor perjalanan, Arsy Buana Travelindo (HAJJ) membidik peningkatan laba pada tahun 2026 dengan mengambil alih pengelolaan penuh salah satu hotel di Madinah. Langkah strategis ini diharapkan memberikan ruang margin keuntungan yang lebih optimal, berbeda dengan skema sebelumnya yang hanya menyewa sebagian blok kamar untuk dipasarkan kepada jemaah. Strategi ini selaras dengan fokus perusahaan pada portofolio hotel yang menjanjikan margin lebih tinggi. Pada semester I-2026, pendapatan HAJJ mengalami penurunan 30,31% menjadi Rp363,60 miliar, sementara laba komprehensif periode berjalan juga menyusut 12,35% menjadi Rp23,60 miliar. Namun, margin laba kotor justru menunjukkan peningkatan menjadi 18,80% dari 13,37% pada periode yang sama tahun lalu, lantaran laba kotor tetap mampu dipertahankan di Rp68,36 miliar. Peningkatan kualitas profitabilitas ini juga dibarengi dengan penurunan rasio utang terhadap ekuitas menjadi 1,47 kali dari 2,00 kali pada akhir tahun fiskal 2025.

Disclaimer: Analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada pada pembaca.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar