Minyak Menggila Tembus 83 Dolar Ada Apa

Minyak Menggila Tembus 83 Dolar Ada Apa

haluannews.id – Harga minyak dunia kembali menunjukkan taringnya pada sesi perdagangan terkini, dipicu oleh eskalasi kekhawatiran akan stabilitas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Jalur strategis ini, yang menjadi urat nadi seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global, kini dibayangi oleh potensi gangguan yang memicu gejolak pasar.

COLLABMEDIANET

Data Refinitiv mencatat, minyak jenis Brent melonjak ke angka US$83,21 per barel, menguat 0,87% dari posisi penutupan sebelumnya di US$82,49. Tak ketinggalan, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga ikut menanjak 0,75% menjadi US$77,87 per barel dari US$77,29. Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah sehari sebelumnya kedua kontrak energi tersebut sudah melesat lebih dari US$3 per barel.

Minyak Menggila Tembus 83 Dolar Ada Apa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen utama yang memanaskan pasar datang dari Selat Hormuz. Iran bersama Oman dikabarkan tengah menggodok regulasi anyar yang berpotensi membatasi akses kapal-kapal yang dianggap tidak bersahabat untuk melintas di perairan tersebut. Rancangan aturan itu bahkan mencakup usulan denda fantastis hingga 20% dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar.

Lebih jauh, Iran juga mengusulkan pungutan sekitar 5%-7% dari nilai kargo bagi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, Oman disebut-sebut mengusulkan tarif sekitar 3%, berbeda dengan Amerika Serikat yang menginginkan lalu lintas tetap bebas tanpa pungutan apa pun.

Rencana ini sontak memicu keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai prospek normalisasi pengiriman minyak. Empat sumber industri yang dikutip Reuters mengungkapkan bahwa skema tersebut sulit diimplementasikan, mengingat adanya sanksi berat dari Amerika Serikat terhadap Iran serta klausul asuransi yang membatasi mekanisme pembayaran. Tim Waterer, analis pasar utama KCM Trade, menambahkan bahwa pasar masih skeptis terhadap efektivitas kesepakatan baru ini, mengingat upaya serupa di masa lalu hanya bersifat sementara. Kondisi ini secara tidak langsung memberikan dukungan kuat bagi harga minyak.

Di sisi lain, bara ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menyala. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke posisi Saudi di wilayah Marib dan Hadramout pada Kamis lalu, menambah daftar panjang risiko geopolitik yang membayangi pasokan energi.

Sebelumnya, harga minyak sempat tertekan di awal pekan karena harapan akan solusi konflik yang berlangsung sejak akhir Februari. Namun, perkembangan terbaru ini justru membuat premi risiko geopolitik kembali meresap ke pasar. Akibatnya, harga Brent kembali kokoh di atas US$80 per barel, setelah sempat anjlok di bawah level tersebut untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.

Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan keyakinan bahwa konflik akan segera berakhir, pelaku pasar tetap menanti kepastian mengenai implementasi aturan pelayaran di Selat Hormuz. Selama jalur strategis ini masih diselimuti ketidakpastian, volatilitas harga minyak diperkirakan akan terus tinggi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar