haluannews.id – Wacana besar konsolidasi perusahaan asuransi milik negara di bawah payung Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus bergulir, memicu perhatian pelaku industri. PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau Tugu Insurance, melalui Presiden Direkturnya Adi Pramana, memberikan keterangan terbaru bahwa proses strategis ini masih dalam tahap pengkajian mendalam, tanpa keputusan final mengenai bentuk maupun struktur penggabungan yang akan diterapkan.

Related Post
Adi Pramana menjelaskan, inisiatif penggabungan entitas asuransi umum dalam ekosistem Danantara merupakan langkah strategis yang didesain untuk memperkokoh sinergi, memperbesar skala usaha, meningkatkan kapabilitas, memperbaiki tata kelola, dan menjamin keberlanjutan ekosistem asuransi umum di Indonesia. Langkah ini juga diharapkan mampu mendorong efisiensi operasional dan menyuguhkan layanan serta solusi perlindungan yang lebih komprehensif bagi masyarakat luas.

Menurut Adi, tindak lanjut dari proses konsolidasi ini akan sangat bergantung pada hasil kajian serta uji tuntas (due diligence) yang menyeluruh. Oleh karena itu, bentuk dan struktur penggabungan yang paling tepat belum diputuskan dan nantinya akan ditetapkan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian, tata kelola korporasi yang prima, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. "Kajian dilakukan dengan mengacu pada kinerja keuangan dan operasional berbasis PSAK 117 yang telah diterapkan secara efektif di industri asuransi sejak 1 Januari 2025, sehingga memberikan dasar penilaian yang lebih transparan, konsisten, dan dapat diperbandingkan," ungkap Adi dalam acara Media Meet Up di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Konsolidasi asuransi BUMN ini ditargetkan tuntas pada tahun 2026. Pembahasan teknis merger diharapkan rampung pada Juli 2026, sementara proses penggabungan perusahaan dijadwalkan mulai berlangsung pada September 2026.
Sebelumnya, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, telah mengadakan pertemuan penting dengan Direktur Utama IFG, Hexana Tri Sasongko, pada Rabu (17/6/2026). Pertemuan tersebut membahas integrasi bisnis, penguatan struktur tata kelola, optimalisasi permodalan, serta pengembangan sinergi antar entitas yang akan menjadi bagian dari struktur perusahaan hasil merger. Berbagai langkah strategis juga dibahas untuk memastikan proses integrasi berjalan efektif dan menghadirkan nilai tambah jangka panjang.
Dony berharap, transformasi ini akan melahirkan skala bisnis yang lebih kokoh, meningkatkan efisiensi operasional, mempertebal kapasitas penjaminan (underwriting) dan investasi, serta memperluas jangkauan perlindungan perusahaan kepada masyarakat maupun dunia usaha. Melalui penguatan struktur industri asuransi BUMN, BP BUMN dan Danantara juga berharap sektor asuransi dapat memainkan peran yang semakin strategis dalam menopang stabilitas sistem finansial, menggenjot penetrasi asuransi nasional, serta mendukung pembiayaan dan pembangunan ekonomi.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, mengonfirmasi bahwa diskusi mengenai konsolidasi asuransi BUMN masih terus bergulir antara berbagai lembaga dan konsultan. Ia berharap proses ini dapat selesai pada 31 Juli 2026. "Proses penggabungan September 2026, sehingga Januari 2027 harus sudah selesai. Tapi apakah nanti siapa yang jadi cangkang ini masih belum kelihatan hilalnya," ujar Budi dalam konferensi pers AAUI di Jakarta.
Dony Oskaria juga pernah menyampaikan bahwa jumlah anak hingga cucu usaha BUMN akan direduksi dari 1.043 entitas menjadi sekitar 300 entitas pada tahun ini. Ia menegaskan bahwa seluruh BUMN akan terdampak restrukturisasi tersebut, termasuk sektor asuransi. "Asuransi dari 15 akan mengerucut menjadi 3, kita akan punya satu asuransi jiwa, satu asuransi umum, dan satu asuransi kredit," kata Dony dalam acara haluannews.id Economic Outlook 2026 di Jakarta.










Tinggalkan komentar