haluannews.id – Mata uang kebanggaan Indonesia, rupiah, menutup pekan perdagangan dengan performa gemilang. Pada Jumat 12 Juni 2026, nilai tukar rupiah sukses mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), parkir di level Rp17.865 per dolar AS. Capaian ini membawa rupiah semakin menjauh dari bayang-bayang level psikologis Rp18.000, sekaligus mendekatkan diri pada kisaran Rp17.800.

Related Post
Sejak awal sesi perdagangan pagi, sinyal penguatan rupiah sudah terasa. Mata uang Garuda sempat dibuka perkasa di Rp17.900 per dolar AS, mengukir kenaikan 0,42%. Meskipun sempat mengalami tekanan dan menyentuh level Rp17.965 per dolar AS, rupiah berhasil bangkit kembali dan mempertahankan momentum positifnya hingga bel penutupan. Sementara itu, di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau relatif stabil di angka 99,875 pada pukul 15.00 WIB, setelah sebelumnya sempat melemah tipis 0,09%.

Performa cemerlang rupiah tak lepas dari melemahnya dominasi dolar AS di kancah global. Pelemahan "greenback" ini memberikan angin segar bagi berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah, untuk unjuk gigi. Penurunan nilai dolar AS dipicu oleh keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang secara mengejutkan membatalkan serangan militer ke Iran di detik-detik terakhir. Langkah ini mengindikasikan adanya potensi kesepakatan diplomatik dengan Teheran, meredakan ketegangan geopolitik. Dalam kondisi normal, dolar AS seringkali menjadi pilihan utama investor sebagai aset aman saat ketidakpastian global meningkat. Namun, ketika prospek perdamaian menguat, investor cenderung beralih ke aset berisiko yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi, menyebabkan dolar AS melemah.
Dari ranah domestik, meski Jakarta diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa, gejolak tersebut ternyata tidak cukup kuat untuk membendung laju penguatan rupiah. Menanggapi dinamika ini, Ekonom senior Raden Pardede menjelaskan bahwa fundamental kekuatan atau kelemahan rupiah dapat dicermati dari dua pilar utama: kecukupan cadangan devisa dan kondisi neraca pembayaran (Balance of Payment/BOP) negara. "Ketika kita menganalisis faktor penentu pergerakan rupiah, ketersediaan cadangan devisa menjadi krusial. Selanjutnya, bagaimana performa neraca pembayaran kita," ungkap Raden dalam sebuah diskusi di haluannews.id pada Jumat 12 Juni 2026. Ia menambahkan, neraca pembayaran yang sehat dan positif akan mencerminkan cadangan devisa yang kokoh, memberikan pemerintah serta otoritas moneter kekuatan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dengan performa impresif ini, rupiah berhasil mengukir penutupan pekan yang sangat positif. Proyeksi pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada fluktuasi dolar AS di pasar internasional, perkembangan situasi geopolitik global, serta tingkat kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi domestik.










Tinggalkan komentar