haluannews.id – Jakarta Sebuah terobosan besar tengah digulirkan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara BUMN. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara BPI Danantara memastikan bahwa program perampingan yang ambisius ini tidak akan berujung pada pemutusan hubungan kerja massal bagi para karyawan. Sebaliknya langkah ini justru akan menciptakan efisiensi luar biasa tanpa mengorbankan nasib pekerja.

Related Post
Dony Oskaria Chief Operating Officer COO Danantara menegaskan komitmen tersebut. Ia menjamin seluruh karyawan akan tetap dipertahankan dan dialihkan ke perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi. Arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto menjadi landasan utama agar transformasi di tubuh BUMN tidak merugikan para pekerja. Presiden tidak menginginkan adanya PHK tegas Dony dalam sebuah pernyataan yang dirilis Badan Komunikasi Pemerintah RI.

Proses penataan ulang atau streamlining BUMN ini ditargetkan rampung tahun ini. Langkah strategis ini diambil untuk menanggulangi banyaknya perusahaan pelat merah yang selama ini dikenal tidak efisien dan terus-menerus merugi. Dari 1.077 entitas BUMN yang ada saat ini sekitar 52 persen di antaranya tercatat mengalami kerugian dengan akumulasi mencapai Rp20 triliun.
Danantara telah melakukan perhitungan cermat terkait opsi tanpa PHK. Hasilnya sungguh mengejutkan penghematan yang bisa diperoleh dari konsolidasi jauh melampaui biaya tenaga kerja yang harus ditanggung. Biaya tenaga kerja untuk perusahaan-perusahaan yang akan dirampingkan hanya sekitar Rp2-3 triliun per tahun. Dengan potensi efisiensi yang mencapai puluhan triliun rupiah Danantara memilih untuk mempertahankan seluruh pekerja.
Saya berpikir kalau begitu saya ambil saja semua karyawannya saya masih hemat Rp47 triliun kata Dony. Ia menekankan bahwa para pekerja tidak boleh menjadi pihak yang menanggung dampak dari restrukturisasi korporasi karena ini bukan kesalahan mereka. Seluruh pegawai akan tetap menjadi bagian integral dari perusahaan-perusahaan hasil penggabungan.
Lebih jauh Dony menjelaskan perampingan BUMN berpotensi menghasilkan penghematan langsung hingga Rp50 triliun setiap tahun. Danantara menemukan praktik transaksi berlapis antara induk anak hingga cucu perusahaan yang selama ini menjadi sumber inefisiensi besar mencapai sekitar Rp30 triliun.
Sebagai contoh penggabungan PT Pertamina Patra Niaga Kilang Pertamina Internasional dan Pertamina International Shipping PIS berhasil memangkas berbagai biaya transaksi internal dan potensi kerugian akuntansi. Merger ini telah menghemat sekitar USD600-700 juta. Praktik serupa juga teridentifikasi di lingkungan Telkom Group di mana proyek pembangunan jaringan serat optik harus melewati beberapa lapis perusahaan sehingga menimbulkan biaya tambahan yang tidak perlu.
Dony menyimpulkan jika seluruh proses streamlining selesai dilaksanakan dan jumlah perusahaan berhasil dipangkas menjadi sekitar 254 entitas Danantara akan memperoleh penghematan langsung sekitar Rp50 triliun. Ini adalah immediate saving tanpa harus menunggu peningkatan profitabilitas dari perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi. Di depan mata kita ada Rp50 triliun tutupnya.










Tinggalkan komentar