Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah, BI Blak-blakan Penyebabnya!

Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah, BI Blak-blakan Penyebabnya!

Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif setelah nilai tukar rupiah terdepresiasi signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri hari di zona merah, merosot 1,03% hingga menyentuh level Rp17.640 per dolar AS. Angka ini tidak hanya melampaui batas psikologis Rp17.000 per dolar AS, tetapi juga mencatatkan rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah.

COLLABMEDIANET

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam sesi dengar pendapatnya dengan Komisi XI DPR RI pada hari yang sama, menjelaskan secara gamblang faktor-faktor di balik pelemahan kurs rupiah yang terjadi sejak awal tahun. Menurut Perry, depresiasi ini dipengaruhi oleh kombinasi aspek fundamental dan teknikal.

Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah, BI Blak-blakan Penyebabnya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Secara fundamental, Perry menegaskan bahwa level nilai tukar rupiah saat ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya. "Dari pengalaman kami menghadapi berbagai krisis, kami meyakini rupiah saat ini undervalued," ujar Perry, mengindikasikan bahwa fundamental ekonomi domestik sebenarnya lebih kuat dari yang tercermin pada kurs. Selain itu, Perry juga menyoroti adanya sentimen musiman di Tanah Air yang turut menekan rupiah, seperti pembayaran dividen, pelunasan utang perusahaan, dan kebutuhan mata uang asing untuk ibadah Haji.

Sementara itu, dari sisi teknikal, Perry menyebutkan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Risiko yang tinggi di kawasan tersebut memiliki dampak global yang substansial, termasuk perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan lonjakan harga minyak. "Harga minyak Brent pernah mencapai US$120, kini di US$111. Ini adalah pola yang pernah terjadi di masa lalu," paparnya, menggambarkan siklus dampak geopolitik terhadap komoditas.

Kondisi global ini diperparah oleh inflasi AS yang tetap tinggi, menyebabkan Federal Reserve (The Fed) menunda rencana penurunan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR). Konsekuensinya, imbal hasil surat utang AS (yield US Treasury) mengalami kenaikan, memicu arus modal keluar dari pasar berkembang (emerging market) seperti Indonesia, menuju aset-aset yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih tinggi di AS.

Meskipun demikian, Perry Warjiyo menekankan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara keseluruhan masih dalam kategori stabil. "Kami telah memantau, secara year to date hingga saat ini depresiasinya sekitar 5,4%, yang mana sebenarnya masih dalam batas stabil," kata Perry.

Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa BI tidak pernah berpatokan pada level nilai tukar rupiah tertentu. Fokus utama BI adalah menjaga stabilitas pergerakan kurs. "Stabilitas nilai tukar rupiah, bukan pada tingkat levelnya, melainkan pada volatilitasnya. Yang kami dekati sekarang adalah stabilitas, yaitu volatilitas nilai tukar rata-rata 20 hari," tegasnya, menggarisbawahi pendekatan kebijakan moneter BI yang berorientasi pada stabilitas pasar, bukan target angka nominal.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar