Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia kembali dilanda gejolak signifikan pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 4%, terperosok ke level 6.400-an, sementara nilai tukar Rupiah mencatat rekor terlemah sepanjang masa, menyentuh angka Rp 17.660 per Dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar, didorong oleh tekanan eksternal dan sentimen domestik yang memanas.

Related Post
Volatilitas ekstrem yang terjadi pada awal pekan tersebut menjadi sorotan utama. Pelemahan Rupiah yang drastis dan koreksi tajam pada IHSG mengindikasikan adanya tekanan jual yang kuat, baik dari investor asing maupun domestik. Analis pasar menyoroti kombinasi faktor global, seperti ketidakpastian ekonomi makro, serta dinamika internal negeri yang turut memperkeruh sentimen pasar, mendorong aset-aset berisiko untuk dilepas.

Di tengah riuhnya kritik dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait pelemahan Rupiah yang terus berlanjut, Purbaya, seorang pakar ekonomi atau pejabat yang relevan, mencoba meredam kekhawatiran publik. Ia menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini "jauh dari krisis 1998." Pernyataan ini disampaikan sebagai upaya untuk menenangkan pasar dan meyakinkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menghadapi guncangan, meskipun volatilitas jangka pendek tidak dapat dihindari.
Diskusi mendalam mengenai gejolak pasar ini, serta analisis lebih lanjut dari Shafinaz Nachiar dan Serliana Salsabila, dapat disimak dalam program Closing Bell Haluannews.id, yang tayang pada Senin, 18 Mei 2026, memberikan perspektif komprehensif tentang tantangan dan prospek ekonomi ke depan.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar