Haluannews Ekonomi – Jakarta – Pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menyebut "masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat" sempat memicu perbincangan hangat dan spekulasi di ruang publik, terutama di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang menjadi sorotan. Untuk meluruskan persepsi dan memberikan konteks yang lebih utuh, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara, menegaskan bahwa maksud di balik ucapan tersebut sangat spesifik dan tidak berkaitan dengan kondisi ekonomi makro secara umum.

Related Post
Purbaya menjelaskan, inti dari pernyataan Presiden Prabowo adalah bahwa mata uang dolar AS tidak dipakai dalam operasional sehari-hari di tingkat desa. Klarifikasi ini disampaikan Purbaya saat ditemui di Gedung Direktorat Jenderal Pajak, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (18/5). Ia menekankan bahwa Prabowo melontarkan pernyataan tersebut dalam konteks acara Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, yang memang berfokus pada pemberdayaan ekonomi pedesaan.

"Bukan konteks di internasional kan. Ini ngomongnya di koperasi desa gitu," ujar Purbaya, menegaskan bahwa pembicaraan saat itu terfokus pada dinamika ekonomi lokal di perdesaan. Ia menambahkan, Presiden Prabowo sangat memahami kondisi pelemahan rupiah yang sedang terjadi. Namun, pada momen tersebut, konteks pembicaraannya adalah penggunaan langsung dolar AS bagi koperasi desa Merah Putih, bukan isu nilai tukar global.
"Itu konsumsi orang desa pada waktu kemarin. Jadi jangan anggap Pak Presiden gak ngerti, Pak Presiden mengerti betul tentang rupiah. Cuma kan konteksnya di sana waktu kemarin (acara peresmian Koperasi Desa Merah Putih)," tegas Purbaya, meluruskan anggapan bahwa Prabowo tidak memahami isu fundamental ekonomi nasional. Ia memastikan bahwa Presiden memiliki pemahaman yang mendalam mengenai pergerakan rupiah.
Lebih lanjut, Purbaya juga mengungkapkan bahwa pernyataan Presiden Prabowo saat itu juga memiliki tujuan untuk menghibur masyarakat yang hadir. "Untuk menghibur rakyat saja, waktu itu di sana. Saya sih lihat konteksnya pedesaan waktu kemarin itu. Gak apa-apa ngomong begitu," katanya, memberikan perspektif lain di balik ucapan yang sempat menjadi viral tersebut.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memang pernah menyatakan bahwa dampak pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak dirasakan oleh kelompok yang sering bertransaksi atau bepergian ke luar negeri, bukan oleh masyarakat di pedesaan. "Nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar," kata Prabowo dalam peresmian Kopdes Merah Putih tersebut, menenangkan hadirin.
Klarifikasi dari Menteri Keuangan Purbaya ini diharapkan dapat meredakan berbagai interpretasi yang keliru dan memberikan pemahaman yang lebih akurat mengenai maksud di balik ucapan Presiden. Haluannews.id mencatat, pentingnya melihat setiap pernyataan publik dalam konteksnya agar tidak menimbulkan salah tafsir yang meluas di masyarakat.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar