Peluang Damai AS-Iran Guncang Harga Minyak: Bakal Anjlok?

Peluang Damai AS-Iran Guncang Harga Minyak: Bakal Anjlok?

Haluannews Ekonomi – Pasar minyak global menunjukkan tanda-tanda mereda pada Jumat (17/4/2026) pukul 10.00 WIB, setelah sempat melambung tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Harga minyak dunia bergerak turun, dipicu oleh harapan akan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya potensi negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Data dari Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent berada di level US$98,19 per barel, terkoreksi 1,21% dari penutupan sebelumnya di US$99,39 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 1,47% menjadi US$93,30 per barel dari US$94,69 per barel. Meskipun ada penurunan hari ini, level harga ini masih tergolong tinggi dibandingkan posisi awal April.

COLLABMEDIANET

Katalis utama di balik pergerakan harga ini adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan pertemuan antara Washington dan Teheran dalam waktu dekat. Trump bahkan menyebut kesepakatan dengan Iran sudah "sangat dekat," termasuk proposal yang membatasi Iran dari kepemilikan senjata nuklir selama lebih dari dua dekade. Pernyataan ini sontak memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar, membuka ruang bagi perhitungan ulang mengenai potensi normalisasi pasokan minyak global.

Peluang Damai AS-Iran Guncang Harga Minyak: Bakal Anjlok?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sebelumnya, pasar energi global diguncang oleh penutupan Selat Hormuz selama tujuh pekan terakhir. Jalur strategis ini, yang merupakan arteri vital bagi sekitar seperlima suplai minyak dunia, telah mengganggu arus minyak sekitar 13 juta barel per hari (bpd) menurut estimasi analis ING. Gangguan masif ini menjadi alasan utama di balik lonjakan harga minyak hingga 50% pada bulan Maret. Namun, kini sentimen pasar mulai bergeser dari mode panik ke mode antisipasi diplomasi. Gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel turut meredakan premi risiko di kawasan, menghilangkan salah satu hambatan penting dalam upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Secara teknikal, harga Brent kini bergerak di bawah ambang psikologis US$100 per barel setelah sempat menembus level tersebut. Dalam sepekan terakhir, Brent bergerak di rentang US$94,79 hingga US$99,39, sementara WTI sempat menyentuh US$99,08 pada 13 April sebelum terkoreksi tajam. Pasar tetap sangat sensitif terhadap setiap perkembangan politik. Meskipun ada penurunan hari ini, risiko belum sepenuhnya hilang. Kegagalan perundingan atau berlanjutnya penutupan Selat Hormuz dapat dengan cepat memicu kembali kenaikan harga. Sebaliknya, jika jalur diplomasi berhasil dan distribusi minyak kembali lancar, harga Brent berpotensi bergerak lebih dalam di bawah US$95 per barel.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar