Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat (17/4/2026) dengan penguatan tipis. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini tercatat naik 12,62 poin atau setara 0,17%, memarkir posisinya di level 7.634.

Related Post
Pergerakan IHSG hari ini diwarnai oleh dominasi saham-saham yang menguat, dengan 323 emiten mencatatkan kenaikan harga. Sementara itu, 337 saham mengalami koreksi dan 160 saham lainnya tidak bergerak dari posisinya. Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp 15,97 triliun. Total 41,05 miliar saham berpindah tangan dalam 2,33 juta kali transaksi, mendorong kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 13.661 triliun.

Menurut data yang dihimpun Haluannews.id dari Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan menunjukkan kinerja positif. Sektor infrastruktur, properti, dan konsumer primer menjadi lokomotif penguatan dengan kenaikan tertinggi. Di sisi lain, sektor finansial, industri, dan barang baku justru mengalami koreksi paling dalam, menahan laju penguatan IHSG lebih lanjut.
Secara spesifik, emiten energi terbarukan dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energi (BREN), menjadi kontributor utama penguatan IHSG. Saham BREN menyumbang 11,07 poin indeks. Disusul oleh raksasa otomotif dan agribisnis, Astra International (ASII), yang memberikan sumbangsih 6,98 poin indeks setelah sahamnya naik 2,82% ke level Rp 6.375 per saham. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga tak ketinggalan, menguat 0,59% ke Rp 3.430 per saham dan menyumbang 3,14 poin indeks. Emiten lain seperti RISE dan EMAS turut berkontribusi masing-masing 2,96 dan 2,84 poin indeks. Sejumlah emiten lain yang juga menjadi penopang kinerja IHSG hari ini termasuk CUAN, MDKA, MBMA, AADI, dan EXCL.
Dinamika Global dan Domestik Penggerak Pasar
Penutupan perdagangan pekan ini diwarnai oleh serangkaian sentimen fundamental dan geopolitik yang krusial. Dinamika eksternal, mulai dari ketegangan di kawasan Timur Tengah, anomali di pasar derivatif Amerika Serikat, hingga rilis data makroekonomi Tiongkok, menjadi faktor penggerak utama yang dicermati pelaku pasar.
Salah satu kabar penting datang dari arena geopolitik, di mana para pemimpin Israel dan Lebanon dikabarkan menyepakati gencatan senjata selama 10 hari. Kesepakatan ini tercapai setelah pertemuan pejabat kedua negara di Washington, dan akan dimulai pukul 17.00 waktu AS Timur (ET). Mantan Presiden AS, Donald Trump, melalui unggahan di Truth Social, menyatakan bahwa ia akan mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk "pembicaraan bermakna pertama antara Israel dan Lebanon sejak 1983." Trump optimis kedua pihak menginginkan perdamaian yang cepat.
Kementerian Luar Negeri AS, dalam pernyataan Kamis malam, menambahkan bahwa kedua negara akan berupaya menciptakan kondisi yang mendukung perdamaian jangka panjang, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, serta membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama, sambil tetap menjaga hak inheren Israel untuk membela diri.
Di sisi lain, lalu lintas pelayaran kapal tanker minyak di Selat Hormuz mulai menunjukkan pergerakan, meskipun volume masih jauh di bawah kapasitas normal di tengah ketegangan geopolitik yang berlangsung. Beberapa kapal tanker berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) seperti RHN dan Alicia terpantau melintasi kawasan tersebut. RHN, misalnya, memiliki kapasitas angkut sekitar dua juta barel minyak mentah dengan estimasi nilai muatan mencapai US$160 juta. Meskipun ada aktivitas, volume pelayaran secara keseluruhan masih anjlok hingga 90% dibandingkan kondisi normal sebelum pecahnya konflik. Menariknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pihaknya telah membuka Selat Hormuz secara permanen, sebagai hasil kesepakatan dengan Tiongkok yang menyetujui untuk tidak lagi mengirimkan pasokan senjata ke Iran.
Dari ranah domestik, di tengah ketidakpastian global, sentimen positif mengalir bagi perekonomian Indonesia. Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa S&P mengapresiasi komitmen pemerintah Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal, khususnya upaya menahan defisit anggaran di bawah batas 3% terhadap PDB. Berdasarkan audit terbaru, defisit fiskal berhasil direalisasikan lebih rendah pada level 2,8%.
Faktor lain yang menambah keyakinan lembaga pemeringkat adalah perbaikan kinerja pengumpulan pendapatan negara. Kinerja penerimaan pajak yang tumbuh hingga 30% pada dua bulan pertama tahun ini, serta 20% pada periode Januari-Maret dibandingkan tahun lalu, dipandang sebagai hasil positif dari restrukturisasi organisasi perpajakan dan kepabeanan. Meski demikian, pihak kementerian menyadari adanya perhatian khusus dari S&P mengenai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan yang berada di atas 15%, indikator yang akan terus dimonitor.
"Mereka (S&P) menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen dari PDB," jelas Purbaya. "Saya bilang kita konsisten dengan kebijakan itu, Presiden Prabowo telah memberikan arahan bahwa defisit kita dijaga di bawah 3 persen." Purbaya juga meyakinkan S&P bahwa kekhawatiran terkait pembayaran utang dapat dikendalikan seiring perbaikan pengumpulan pajak dan cukai.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar