haluannews.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda kepanikan pada sesi perdagangan pertama hari Senin, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam. Indeks acuan tersebut ambles hingga 4,39 persen atau setara 245,82 poin, mengakhiri sesi di level 5.348,95. Penurunan drastis ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Related Post
Situasi pasar mencerminkan tekanan jual yang luar biasa agresif. Data menunjukkan, sebanyak 606 saham terpantau melemah, berbanding terbalik dengan hanya 57 saham yang berhasil menguat, sementara 296 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi perdagangan pada sesi ini telah mencapai angka Rp2,85 triliun, dengan volume perdagangan menyentuh 3,77 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 279 ribu kali. Koreksi lebih dari 4 persen yang terjadi hanya dalam rentang waktu sekitar 10 menit perdagangan mengindikasikan dominasi tekanan jual yang sangat kuat sejak pagi hari.

Gejolak di pasar keuangan Indonesia ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global dan kondisi domestik yang terus menjadi sorotan investor. Salah satu pemicu utama ketidakpastian datang dari kancah internasional. Pada akhir pekan lalu, dunia dikejutkan dengan laporan bahwa Iran melancarkan serangan rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026). Insiden ini merupakan yang pertama kalinya sejak gencatan senjata antara Teheran dan Washington diberlakukan pada April lalu, memperkeruh situasi geopolitik global secara signifikan.
Menyikapi perkembangan tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, melontarkan tudingan serius. Ia menyebut blokade laut oleh Amerika Serikat serta serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran kesepakatan. Ghalibaf dengan tegas menyatakan bahwa pangkalan militer AS dan aset-aset Israel di kawasan kini telah menjadi target yang sah bagi Iran.
Sementara itu, di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang telah menerima laporan mengenai serangan tersebut, memberikan respons. Trump menegaskan bahwa aksi Iran tersebut sama sekali tidak akan membantu proses negosiasi yang sedang berlangsung. Lebih lanjut, dikabarkan bahwa Trump berencana untuk segera menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya aksi balasan yang berpotensi memperparah ketegangan di Timur Tengah.








Tinggalkan komentar